Tutup Iklan
hijab
  
login Register
Mampir Sejenak ke Kampung Naga di Tasikmalaya

Mampir Sejenak ke Kampung Naga di Tasikmalaya

13 Juli 2017 | Dibaca : 1385x | Penulis : Rachmiamy

Kampung Naga adalah suatu perkampungan yang dihuni oleh sekelompok masyarakat yang sangat kuat dalam memegang adat istiadat peninggalan leluhurnya, dalam hal ini adalah adat Sunda. Seperti permukiman Badui, Kampung Naga menjadi objek kajian antropologi mengenai kehidupan masyarakat pedesaan Sunda pada masa peralihan dari pengaruh Hindu menuju pengaruh Islam di Jawa Barat.

Kampung Naga berada di desa Neglasari, Kecamatan Salawu Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Kampung Naga menyajikan keindahan alam yang eksotis.

Kampung Naga terletak pada sebuah lembah yang subur seluas kurang lebih 1,5 hektar. Oleh karena itu sebelum mencapai lokasi Kampung Naga kita harus menuruni anak tangga yang jumlahnya sangat banyak.

Keunikan dari kampung ini yaitu masyarakat masih sangat kuat memegang adat istiadat.Tabu, pantangan atau pamali bagi masyarakat Kampung Naga masih dilaksanakan dengan patuh, khususnya dalam kehidupan sehari-hari, terutama yang berkenaan dengan aktivitas kehidupannya. Pantangan atau pamali merupakan ketentuan hukum yang tidak tertulis yang mereka junjung tinggi dan dipatuhi oleh setiap warga Kampung Naga. Misalnya tata cara membangun dan bentuk rumah, letak, arah rumah, pakaian upacara, kesenian, dan sebagainya.

Bentuk rumah masyarakat Kampung Naga harus panggung, bahan rumah dari bambu dan kayu. Atap rumah harus dari daun nipah, ijuk, atau alang-alang, lantai rumah harus terbuat dari bambu atau papan kayu. Rumah harus menghadap kesebelah utara atau ke sebelah selatan dengan memanjang kearah Barat-Timur. Dinding rumah dari bilik atau anyaman bambu dengan anyaman sasag. Rumah tidak boleh dicat, kecuali dikapur atau dimeni. Bahan rumah tidak boleh menggunakan tembok, walaupun mampu membuat rumah tembok atau gedong. Rumah tidak boleh dilengkapi dengan perabotan, misalnya kursi, meja, dan tempat tidur. Rumah tidak boleh mempunyai daun pintu di dua arah berlawanan. Karena menurut anggapan masyarakat Kampung Naga, rizki yang masuk kedalam rumah melaui pintu depan tidak akan keluar melalui pintu belakang. Untuk itu dalam memasang daun pintu, mereka selalu menghindari memasang daun pintu yang sejajar dalam satu garis lurus.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya

Mungkinkah Kacamata Pintar Gantikan Smarphone di Masa Depan?
16 Februari 2018, by Ghilman Azka Fauzan
Tampang.com - Saat ini, Smartphone menjadi salah satu perangkat yang penting bagi semua orang. Smartphone sendiri kini seolah telah menjadi gaya hidup dan tak ...
Untuk Apa Sih Anak Perlu Cinta Buku?
9 Mei 2018, by Dika Mustika
Keterampilan berbahasa atau berkomunikasi adalah salah satu kemampuan yang perlu dikembangkan sedari dini pada anak. Nah dalam keterampilan berbahasa ini, ada ...
Jenderal Tito Ganti Kapolda Metro Jaya dengan Teman Seperjuangannya
20 Juli 2017, by Rahmat Zaenudin
Tampang.com- Kapolda Metro Jaya, M. Iriawan diganti Jabatannya oleh Kapolri, Jenderal Tito Karnavian dan dipindahkan sebagai asisten operasi polri. Sebagai ...
Permainan Fantasi dapat Asah Kreativitas Anak
18 Agustus 2017, by Rindang Riyanti
Terlibat dalam permainan fantasi bisa memberi keuntungan pada pemikiran kreatif pada anak-anak. Inilah salah satu temuan sebuah studi yang dipresentasikan oleh ...
Kemenhub Jamin Semua Dokumen Aman dari Kebakaran Gedung
9 Juli 2018, by oteli w
Kemenhub Jamin Semua Dokumen Aman dari Kebakaran Gedung Gedung Gedung Kementerian Perhubungan (Kemenhub) di Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat ...
 
Copyright © Tampang.com
All rights reserved
 
Tutup Iklan
hijab