Tutup Iklan
hijab
  
login Register
Ketika Menghadapi Anak yang Menangis...

Ketika Menghadapi Anak yang Menangis...

30 November 2017 | Dibaca : 476x | Penulis : Dika Mustika

Hari ini aku mendapatkan pelajaran dari seorang anak. Ia tiba-tiba menangis dan menarik diri dari teman-teman lainnya. Setelah aku ajak mengobrol. Ternyata dia merasa sungguh menyesal telah menendang temannya ketika mereka sedang bermain bola. Dan yang membuatnya lebih menyesal itu adalah, teman yang ditendangnya itu adalah teman baiknya. Dia telah berusaha meminta  maaf pada temannya itu, namun tampaknya temannya itu masih butuh waktu untuk memaafkan. Anak yang menangis ini berkata bahwa ia sudah berusaha untuk menahan emosinya ketika bermain bola, namun ia tidak berhasil. Sungguh tak mudah melihat pemandangan anak yang biasanya sangat aktif dan tangguh, seakan ‘jebol’ benteng pertahanannya. Ia menangis dengan menyembunyikan wajahnya.

 

Awalnya aku sempat bingung, bagaimana menghadapi anak yang sedang menangis dan merasa sangat menyesal karena perilakunya sendiri. Akhirnya aku coba untuk menyelami perasaannya. Coba masuk ke dalam emosinya. Dari situ ia lebih banyak menceritakan kejadian tadi dan juga apa kesulitannya. Aku pun kemudian bertanya, apakah ia butuh support? Dia tampak masih kebingungan dengan pertanyaan ini. Aku coba sederhanakan lagi pertanyaanku. Apakah kamu benar-benar kesulitan mengatasi emosimu? Ia menjawab iya. Aku pun mencoba untuk menjelaskan konsep emosi, bahwa emosi adalah bagian dari energi yang memang harus dikeluarkan. Namun, kita harus ingat ketika mengeluarkan energi tersebut, kita harus memperhatikan orang sekitar kita dan tentunya diri kita sendiri. Kami kemudian berdiskusi mengenai berbagai alternatif yang bisa dilakukan jika ia kesulitan mengendalikan emosi. Akhirnya ada beberapa alternatif pilihan yang tadi didiskusikan. Berjaraklah jika memang kesulitan mengendalikan emosi, cari juga orang dewasa, berwudhulah, dan mintalah perlindungan kepada-Nya dengan beristigfar. Akhirnya itu yang kami diskusikan siang itu. Setelahnya tangis nya pun mereda dan ia mulai lebih dapat berpikir jernih. Ia kemudian berusaha lagi untuk minta maaf pada temannya.

 

Terbayang, ketika kita mungkin tiba-tiba mendapatkan seorang anak menangis, janganlah dulu menasihati atau memberi saran. Tapi coba dahulu masuk ke emosinya, coba selami apa yang ia rasakan, hingga akhirnya nanti bersama-sama bisa menemukan cara yang pas untuknya ketika masalah terjadi lagi padanya.

 

 

Artikel Terkait

Artikel Lainnya

Review Online Pengaruhi Penjualan Bisnis Anda, Cermati Baik-Baik
21 Agustus 2017, by Rindang Riyanti
Online review penting untuk bisnis, tapi seberapa pentingkah mereka? Berikut adalah beberapa statistik yang dapat membuka mata Anda: 92% konsumen membaca ...
Ingin Hidup Lebih Bermakna? Lakukan 8 Cara Ini
5 Agustus 2017, by Slesta
Tampang.com – Hidup itu bukan tentang bekerja saja, melainkan lebih dari itu. Menjadi bermakna itu lebih penting dimana dalam melakukan segala hal tidak ...
Direktur Utama PT Quadra Mengaku Beri 1,8 Juta Dollar AS kepada Setya Novanto
22 Februari 2018, by Jenis Jaya Waruwu
Kasus e-KTP (Kartu Tanda Penduduk Elektronik) tersangka Setya Novanto terus bergulir untuk diselidiki oleh KPK. Direktur Utama PT Quadra Solution, Anang ...
Terapkan 5 Langkah ini untuk Tingkatkan Daya Tahan Tubuh
26 Juni 2018, by Retno Indriyani
Tampang.com - Cuaca yang sedang tidak menentu membuat daya tahan tubuh menurun. Penyakit yang sering mudah menyerang saat daya tahan tubuh menurun antara lain ...
6 Alasan Ini Mengapa Cinta Pertama Selalu Kandas di Tengah Jalan
17 September 2017, by Ghilman Azka Fauzan
Tampang.com - Cinta pertama yang dirasakan biasanya digambarkan dengan kesan yang luar biasa. Hal ini karena kita mulai pertama kali mengenal yang rasanya ...
 
Copyright © Tampang.com
All rights reserved
 
Tutup Iklan
hijab