Tutup Iklan
belireview
  
login Register
saya pancasila

Indonesia Era Now: Kebebasan Menginjak-Injak Islam

5 Desember 2017 | Dibaca : 1979x | Penulis : Tonton Taufik

NGAJAK BERANTEM ALLAH
Oleh: Emha Ainun Nadjib

Salah satu prestasi tingkat tinggi demokrasi dan freedom of speech yang dicapai oleh Indonesia era Now adalah kemerdekaan manusia untuk melecehkan Tuhan, menghina Nabi, menginjak-injak Islam dan mencanangkan bahwa biang dari segala bencana sejarah adalah Al-Qur`an dan Sunnah. Prestasi itu mencapai puncaknya ketika tak ada risiko apapun dari manusia, masyarakat dan ummat, juga dari Negara, sesudah melakukan penghinaan-penghinaan itu.

Bahkan puncak prestasi itu menjadi sempurna karena dilakukan di Negara yang sangat getol mencanangkan Pancasila sebagai dasar filosofi dan ideologinya. Semakin hari semakin kentara bahwa yang dimaksud Tuhan Yang Maha Esa di Sila Pertama itu bukanlah Allah swt. Sampai hari ini saya belum memperoleh bahan tentang siapa Tuhan Yang Maha Esa itu sebenarnya. Sementara saya hanya tahu ia bukan Allahu Ahad, melainkan Tuhan Yang Maha Esa, sehingga ada dua-nya, tiga-nya dan seterusnya.

Allah swt sendiri mempersilakan, membuka pintu lebar-lebar. “Dan katakanlah: "Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin beriman, berimanlah. Dan barangsiapa yang ingin ingkar, maka ingkarlah". Mungkin Tuhan Yang Maha Esa adalah roh, dzat, entitas atau eksistensi yang lain. Mungkin juga ia adalah materi, semacam benda, energi, atau frekuensi. Pun bisa arus, gelombang, nyala, api, sesuatu yang membuat sesuatu menjadi bergolak. Atau mematangkan. Atau membakar, menghanguskan dan memusnahkan.

Saya butuh bertemu dengan pakar yang saya mintai tolong untuk menjelaskan itu. Apalagi di Sila Pertama itu yang disebut bukan subjek, melainkan sifat. Padahal benderanya sangat tegas: Merah, bukan kemerahan. Dan Putih, bukan keputihan.

Tetapi di luar muatannya yang tidak jelas bagi bangsanya, saya tetap pegang Pancasila sebagai paket perjanjian kebangsaan di mana saya berada di dalamnya. Sebagaimana Merah Putih. Pokoknya bukan warna lain, jingga atau hitam. Perkara makna Merah itu apa dan arti Putih itu apa, itu ranah diskusi.

Maka Seger mencatat: Siapapun jangan pernah ragu-ragu untuk menegakkan demokrasi hidup dan kemerdekaan berpikir. Silahkan mem-bully Allah swt, menghina Nabi-Nya, serta mengubah, memalsukan, mengurangi, menambahi atau memanipulasi firman-firman-Nya. Adalah hak asasi setiap manusia untuk melakukan apa saja yang ia maui.

Mungkin ada yang omong-omong begini: 

“Beriman silakan, kufur juga monggo, sebagaimana Allah swt mempersilakan —dengan risiko masing-masing”. 

“Lho, jadi kafir itu boleh?”

“Boleh. Kan itu keputusanmu sendiri. Cuma yang kamu kufuri kan Allah swt, bukan saya. Jadi urusanmu sama Allah swt. Terserah Dia akan bersikap bagaimana. Kalau kamu berani berantem sama Dia, ya silakan” 

“Ah mosok berantem lawan Allah…”

“Kan memang makin banyak orang, terutama para pemimpin tokoh-tokoh yang ngajak berantem Allah. Kalau saya ndak mau terlibat konflik dengan Dia. Beriman atau kafir itu bukan soal kemauan, tapi keniscayaan. Dia yang bikin saya, ya sudah saya ngikut saja sama Dia. Kecuali kalau saya yang bikin Dia, maka Dia jangan macem-macem sama saya, nanti saya bikin kaku lidahnya, atau saya cabut sehelai sarafnya, atau saya remote otaknya sampai gila, jalan telanjang di Thamrin dan Sudirman, atau pas pidato saya bikin gatal seluruh tubuhnya…” 

“Tetapi bukankah ada yang jelas sudah masuk penjara karena dianggap atau diklaim sebagai menistakan Agama?”

“Setahu saya itu kasus tafsir, bukan nash. Ranahnya konotasi, bukan denotasi. Kalau yang denotasi, malah belum ada risiko. Menghukum atas kasus tafsir itu pun karena terdesak atau terpaksa. Institusi yang memasukkannya ke dalam penjara sudah mengupayakan secara maksimal untuk tidak memasukkannya ke dalam penjara. Dan sesudah terpaksa masuk penjara, juga tidak ada pengakuan intelektual bahwa ia bersalah. Juga tidak ada kerelaan kultural dan politik bahwa ia masuk penjara”.


Daur II-289,
Bangkok, 3 Desember 2017

Artikel Terkait

Artikel Lainnya

Indonesia Menari 2017 Diikuti Para Selebritis Terkenal Indonesia
20 November 2017, by Admin
Tampang.com -  “Putar ke kiri e, nona manis putarlah ke kiri, ke kiri, ke kiri..ke kiri manise,” demikianlah lantunan lagu Gemu Fa Mi Re yang ...
Bila Anda Entrepreneur Sukses, Anda Tidak Pernah Mengkhawatirkan Lima Hal Penting Ini!
17 Agustus 2017, by Zeal
Jika Anda membaca ini, lebih dari mungkin, Anda telah berkelana ke dunia bisnis online di beberapa titik. Sebagai wirausahawan, Anda memiliki impian untuk ...
Delapan Planet Dalam Sistem Kepler-90 Ditemukan Menggunakan Pembelajaran Mesin
18 Desember 2017, by Slesta
Ilmuwan NASA telah menemukan sistem planet dengan banyak planet seperti planet kita sendiri. "Para ilmuwan telah menemukan untuk pertama kalinya ...
Mata Coklat Jadikan Anda Tampak Terpercaya
20 Agustus 2017, by Rindang Riyanti
Tahukah Anda bahwa memiliki mata coklat mungkin membuat Anda tampak lebih dapat dipercaya? Dalam penelitian yang dilakukan di Republik Ceko, mahasiswa ...
Foto Ini Bukti Kesepakatan Tertulis Kotor Antara Budi Gunawan-Lucas Enembe Hoax
20 September 2017, by Gatot Swandito
Hampir seminggu setelah berita menghebohkan tentang pertemuan antara Kepala BIN Budi Gunawan (BG)-Gubernur Papua Lucas Enembe-Kapolri Tito Karnavian dan ...
 
Copyright © Tampang.com
All rights reserved
 
Tutup Iklan
hijab