Tutup Iklan
hijab
  
login Register
fahira idris

Agenda Pemberantasan Korupsi dalam Bahaya Jika Otak Penyerang Novel Tak Terungkap

13 April 2017 | Dibaca : 808x | Penulis : Tonton Taufik

Jakarta, 12 April 2017—Penyerangan fisik berupa penyiraman air keras oleh orang tidak dikenal yang menimpa Penyidik Senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan dikecam luas berbagai pihak termasuk oleh Presiden Jokowi. Namun, semua kecaman ini tidak akan bermakna jika polisi tidak mampu mengungkap dengan cepat siapa otak dibalik teror biadab ini.

“Negara harus kerahkan semua sumber dayanya untuk segera ungkap aktor intelektual dibalik teror dan serangan keji ini. Polisi harus yakinkan publik mereka mampu ungkap kasus ini dalam tempo sesingkat-singkatnya. Kerena jika penanganan kasus ini tidak cepat, maka agenda pemberantasan korupsi dalam kondisi bahaya,” ujar Wakil Ketua Komite III DPD Fahira Idris, di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta (12/4).

Fahira mengungkapkan, teror penyerangan fisik yang dialami Novel Baswedan membuka mata kita semua bahwa orang-orang yang selama ini menjadi ujung tombak membongkar korupsi yang merupakan tindak kejahatan luar biasa, tidak mendapat perlindungan keamanan sesuai dengan tugas berat yang diembannya sehari-hari. Kenyataan ini tentunya sangat miris dan memperihatinkan di tengah gagap gempita bangsa ini melawan korupsi.

“Saya tidak paham bagaimana mekanisme pengamanan para penyidik KPK sehari-hari. Namun, kalau kita pakai akal sehat, seharusnya mereka mendapat pengamanan yang melekat jika melihat ‘bahayanya’ tugas yang mereka kerjakan sehari-hari. Mereka ini, kerjanya menguak sebuah tindak pidana yang masuk dalam kategori kejahatan yang luar biasa. Bagaimana mereka mau bekerja tenang kalau keselamatan diri dan keluarganya tidak terjamin. Saya harap ke depan ada pembenahan soal keamanan penyidik KPK,” tukas Senator Jakarta ini.

Aktor dibalik penyerangan Novel Baswedan ini, lanjut Fahira, ingin mengirim pesan ketakutan kepada seluruh rakyat Indonesia bahwa jihad bangsa ini memberantas korupsi akan berhadapan dengan aksi-aksi teror dan kekerasan fisik dengan harapan menyurutkan langkah semua elemen bangsa melawan korupsi. Penyerangan ini merupakan bentuk pelecehan terhadap hukum dan negara karena baik aktor dan eksekutornya menganggap teror yang mereka lakukan tidak akan bisa dilacak dan diungkap.

“Negara tidak boleh lama-lama membiarkan orang-orang penebar teror seperti ini masih berkeliaran. Negara harus tunjukkan bahwa tidak ada tempat bagi mereka di Indonesia. Dalam tempo sesingkat-singkatnya polisi harus ungkap tuntas kasus ini,” pungkas Fahira. #

Artikel Terkait

Artikel Lainnya

Usaha Minuman Paling Laris dan Menguntungkan, Dijamin Sehat dan Halal
6 Februari 2019, by Admin
Tampang.com – Kalau kita lihat usaha-usaha yang saat ini sedang berkembang dan menjadi trend di masyarakat salah satunya yaitu usaha minuman. Banyak ...
mayweather
17 Juli 2017, by Ghilman Azka Fauzan
Tampang.com - Floyd Mayweather Jr. menunjukkan kepongahannya di depan McGregor, sang calon lawan. Mayweather memberikan ultimatum bahwa McGregor akan menderita ...
Lagi, Polisi di era TK Bertindak Represif dalam Menindak Aksi Mahasiswa!
25 Mei 2017, by Zeal
Jakarta – Aksi yang dilakukan oleh Ratusan mahasiswa dari Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) di depan istana negara dinodai oleh tindakan ...
Bukan Lembar Halaman, Buku Ini Berisi Spesies Pepohonan
27 September 2017, by Ghilman Azka Fauzan
Tampang.com - Menurut sejarah, pada abad 18 di Jerman bermunculan perpustakaan-perpustakaan yang unik. Dalam perpustakaan ini, buku-buku yang ada bukanlah buku ...
Justin Barki dan Vijay Sundar masuk Semifinal Turnamen Indonesia F8 Mens's Futures
2 Desember 2017, by Admin
Tampang.com - Petenis Indonesia, Justin Barki (17 tahun) berhasil melaju ke babak semifinal nomor ganda turnamen Indonesia F8 Men’s Futures berlabel TEZ ...
 
Copyright © Tampang.com
All rights reserved
 
Tutup Iklan
hijab