Tutup Iklan
glowhite
  
login Register
fahira idris

Agenda Pemberantasan Korupsi dalam Bahaya Jika Otak Penyerang Novel Tak Terungkap

13 April 2017 | Dibaca : 767x | Penulis : Tonton Taufik

Jakarta, 12 April 2017—Penyerangan fisik berupa penyiraman air keras oleh orang tidak dikenal yang menimpa Penyidik Senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan dikecam luas berbagai pihak termasuk oleh Presiden Jokowi. Namun, semua kecaman ini tidak akan bermakna jika polisi tidak mampu mengungkap dengan cepat siapa otak dibalik teror biadab ini.

“Negara harus kerahkan semua sumber dayanya untuk segera ungkap aktor intelektual dibalik teror dan serangan keji ini. Polisi harus yakinkan publik mereka mampu ungkap kasus ini dalam tempo sesingkat-singkatnya. Kerena jika penanganan kasus ini tidak cepat, maka agenda pemberantasan korupsi dalam kondisi bahaya,” ujar Wakil Ketua Komite III DPD Fahira Idris, di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta (12/4).

Fahira mengungkapkan, teror penyerangan fisik yang dialami Novel Baswedan membuka mata kita semua bahwa orang-orang yang selama ini menjadi ujung tombak membongkar korupsi yang merupakan tindak kejahatan luar biasa, tidak mendapat perlindungan keamanan sesuai dengan tugas berat yang diembannya sehari-hari. Kenyataan ini tentunya sangat miris dan memperihatinkan di tengah gagap gempita bangsa ini melawan korupsi.

“Saya tidak paham bagaimana mekanisme pengamanan para penyidik KPK sehari-hari. Namun, kalau kita pakai akal sehat, seharusnya mereka mendapat pengamanan yang melekat jika melihat ‘bahayanya’ tugas yang mereka kerjakan sehari-hari. Mereka ini, kerjanya menguak sebuah tindak pidana yang masuk dalam kategori kejahatan yang luar biasa. Bagaimana mereka mau bekerja tenang kalau keselamatan diri dan keluarganya tidak terjamin. Saya harap ke depan ada pembenahan soal keamanan penyidik KPK,” tukas Senator Jakarta ini.

Aktor dibalik penyerangan Novel Baswedan ini, lanjut Fahira, ingin mengirim pesan ketakutan kepada seluruh rakyat Indonesia bahwa jihad bangsa ini memberantas korupsi akan berhadapan dengan aksi-aksi teror dan kekerasan fisik dengan harapan menyurutkan langkah semua elemen bangsa melawan korupsi. Penyerangan ini merupakan bentuk pelecehan terhadap hukum dan negara karena baik aktor dan eksekutornya menganggap teror yang mereka lakukan tidak akan bisa dilacak dan diungkap.

“Negara tidak boleh lama-lama membiarkan orang-orang penebar teror seperti ini masih berkeliaran. Negara harus tunjukkan bahwa tidak ada tempat bagi mereka di Indonesia. Dalam tempo sesingkat-singkatnya polisi harus ungkap tuntas kasus ini,” pungkas Fahira. #

Artikel Terkait

Artikel Lainnya

politik uang
16 April 2017, by Tonton Taufik
Jakarta, 16 April 2017—Setelah sebulan lebih menggelar kampanye penajaman visi misi pasangan calon gubernur dan wakil gubernur, hari ini (16/4), Pilkada ...
Ungaro Ring, Bukan Semata-mata Batu Akik Biasa
15 September 2017, by Ghilman Azka Fauzan
Tampang.com - Batu akik yang baru-baru ini digandrungi oleh warga Indonesia ternyata tak melulu hanya menjadi aksesoris pada jari. Kini, benda ini juga dapat ...
Kebiasaan Buruk yang Bikin Kita Sulit Kaya
27 November 2017, by Rahmat Zaenudin
Tampang.com - Tak sedikit dari kita yang selalu melaksanakan kewajiban kita sebagai seorang muslim, namun apa yang kita panjatkan kadang susah sekali ...
WHO: Batasi Vaksin Dengue ke Orang yang Sudah Terinfeksi
23 April 2018, by Slesta
Organisasi Kesehatan Dunia merekomendasikan bahwa vaksin melawan demam berdarah hanya boleh digunakan pada orang-orang yang sebelumnya telah terinfeksi dengan ...
arsenal
28 Mei 2017, by Tonton Taufik
Dengan kemenangan 2-1 atas Chelsea, Arsenal menjadikan tim sepakbola tersukses dalam mendapatkan piala FA di Inggris. Total sudah 13 Piala FA dan diantaranya 7 ...
Berita Terpopuler
Polling
Vote untuk Presiden 2019-20124
#Tagar
 
Copyright © Tampang.com
All rights reserved
 
Tutup Iklan
SabunPemutih