Konsorsium ini dibentuk tahun lalu dengan target investasi awal yang sangat ambisius, yakni lebih dari US$30 miliar atau sekitar Rp494 triliun, untuk berbagai proyek terkait AI. Salah satu target utama dalam kerjasama ini adalah mendanai pembangunan pusat data dan infrastruktur energi yang diperlukan untuk mendukung aplikasi AI, seperti ChatGPT yang dikembangkan oleh OpenAI. Upaya untuk tetap bersaing dalam konteks global menuntut inovasi dan dukungan investasi yang signifikan.
Bergabungnya Nvidia dan xAI ini juga membawa perubahan nama konsorsium menjadi 'AI Infrastructure Partnership' (AIP). Dalam waktu dekat, konsorsium ini menargetkan penggalangan dana total sebesar US$100 miliar, yang setara dengan Rp1.646 triliun. Harapan dari penggalangan dana yang luar biasa ini adalah untuk merangkul lebih banyak inovasi dan merevolusi infrastruktur berbasis AI di seluruh dunia.
Di sisi lain, situasi industri teknologi AS semakin tertekan akibat perang dagang yang dimulai oleh Donald Trump. Pada awal Maret 2025, pasar saham Nasdaq mencatat penurunan yang signifikan, menjadi salah satu yang terburuk sejak tahun 2022. Lima hingga tujuh raksasa teknologi yang dianggap paling berharga di dunia mengalami penurunan nilai pasar yang cukup dramatis, dengan total kerugian lebih dari US$750 miliar atau sekitar Rp12,3 triliun.
Dalam data yang diperoleh, Apple tercatat sebagai yang paling menderita kerugian, dengan penurunan nilai perusahaan mencapai hampir US$174 miliar. Begitu juga dengan Nvidia yang tidak luput dari dampak negatif tersebut. Nvidia mengalami kehilangan hampir US$140 miliar nilai pasarnya, dengan penurunan saham mencapai 5%. Hal ini menjadi lebih problematis ketika Nvidia mencatat hampir sepertiga penurunan nilai pasarnya hanya dalam waktu dua bulan pasca mencapai nilai tertinggi pada bulan Januari 2025.