Contoh perusahaan yang potensial bertahan adalah pabrikan besar yang memiliki basis produksi kuat dan pangsa pasar luas, seperti BYD, yang bahkan berhasil menyalip Tesla sebagai produsen EV terbesar di dunia. Namun, bagi ratusan produsen kecil dan menengah, keadaan ini jauh lebih sulit. Banyak dari mereka yang belum mencapai skala produksi yang efisien dan bergantung pada strategi harga agresif untuk menarik pembeli, yang kini tidak lagi cukup untuk menutup biaya produksi yang tinggi.
Akibatnya, industri EV China memasuki tahap konsolidasi besar-besaran. Para analis menyatakan bahwa hanya perusahaan yang benar-benar inovatif, yang mampu menghadirkan produk menarik dan efisien secara biaya, serta memiliki strategi ekspor global yang kuat, yang akan mampu bertahan di pasar yang semakin kompetitif.
Tren ini juga membuka peluang bagi pemain besar internasional untuk meninjau kembali strategi mereka di pasar China. Beberapa joint venture asing saat ini bahkan mungkin menghadapi tekanan serupa jika penjualan mereka berada di bawah ambang tertentu, yang bisa memicu restrukturisasi atau penarikan dari pasar.
Secara keseluruhan, apa yang sedang dialami industri kendaraan listrik China mencerminkan fase baru evolusi industri otomotif global. Setelah periode pertumbuhan cepat yang digerakkan oleh dukungan pemerintah dan investasi besar, kini tiba saatnya seleksi ketat. Perusahaan yang tidak adaptif mungkin akan hilang, sementara yang kuat akan memperkuat posisinya di pasar domestik dan global.