Penurunan insentif ini dipandang sebagai langkah pemerintah untuk mengurangi ketergantungan industri pada dukungan fiskal yang berkelanjutan. Namun, langkah ini juga memaksa konsumen untuk menanggung biaya lebih tinggi ketika membeli EV, sehingga permintaan diproyeksikan turun. Beberapa lembaga riset bahkan memprediksi bahwa total penjualan mobil secara keseluruhan di China termasuk kendaraan berbahan bakar bensin maupun listrik bisa turun sekitar 3 hingga 5 persen pada 2026.
Situasi ini menciptakan tekanan finansial besar pada perusahaan EV yang masih merugi. Tidak sedikit startup yang selama ini bertumpu pada suntikan modal investor untuk bertahan hidup. Kini mereka harus menghadapi realitas di mana pendapatan terus menurun, biaya produksi tetap tinggi, dan persaingan harga memaksa mereka untuk memangkas harga jual demi menarik pembeli. Hasilnya? Margin keuntungan yang sangat tipis atau bahkan negatif menjadi hal biasa di banyak lini produk.
Selain itu, kelebihan kapasitas produksi di China turut memperparah krisis ini. Lembaga keuangan dan data industri menunjukkan bahwa kapasitas produksi kendaraan listrik jauh lebih besar dibandingkan dengan permintaan pasar yang sedang melemah. Ketidakseimbangan ini menyebabkan banyak produsen harus menurunkan harga atau memperbesar diskon untuk menjaga volume penjualan, yang pada akhirnya memotong margin keuntungan mereka.
Persaingan yang semakin tajam juga menjadi faktor penting dalam fenomena "bertahan atau bangkrut" ini. Sebuah laporan independen menyebut bahwa dari ratusan merek EV yang ada di China, hanya sebagian kecil yang mungkin mampu bertahan dalam jangka panjang. Diperkirakan hanya sekitar 10 persen dari total merek yang dapat mencapai profitabilitas berkelanjutan, sementara sisanya bisa keluar dari pasar baik melalui kebangkrutan, penggabungan dengan merek yang lebih besar, atau pembelian oleh investor kuat.