Tampang.com | Musim kemarau baru dimulai, namun sejumlah wilayah di Sumatera dan Kalimantan kembali dilanda kebakaran hutan dan lahan. Asap mulai menyelimuti langit, mencemari udara, dan mengganggu aktivitas masyarakat. Meskipun bencana ini terjadi hampir setiap tahun, antisipasi pemerintah masih dianggap minim.
Asap Kembali, Warga Kembali Tersiksa
Di Riau, sekolah-sekolah mulai diliburkan karena kualitas udara memburuk. Warga mengeluhkan sesak napas dan iritasi mata, sementara petugas pemadam berjibaku di lahan gambut yang kering dan sulit dijangkau.
“Kami sudah tahu ini akan terjadi, tapi tetap saja terlambat ditangani,” kata Riko, warga Pekanbaru.
Perubahan Iklim Memperparah Risiko, Tapi Kebijakan Tak Berubah
Ahli lingkungan menyebut musim kemarau tahun ini dipengaruhi fenomena El Niño, yang menyebabkan suhu lebih tinggi dan kelembaban rendah—kondisi sempurna bagi api untuk menyebar cepat. Namun ironisnya, mitigasi tetap bersifat reaktif, bukan preventif.