Di masa lalu, peran gajah dalam budaya India tidak bisa dianggap remeh. Gajah bukan hanya alat transportasi, tetapi juga simbol kekuatan dan keagungan. Dalam sejarah, gajah digunakan sebagai kendaraan perang, berperan aktif dalam pertempuran dengan membawa para prajurit serta sebagai simbol kekuatan kerajaan. Di dalam budaya Hindu, gajah sangat dihormati karena asosiasinya dengan Dewa Ganesha, dewa berkepala gajah yang dikenal akan kebijaksanaan dan kemampuannya dalam membantu umatnya mengatasi rintangan.
Namun, dengan meningkatnya kebutuhan akan gajah-gajah untuk keperluan upacara, banyak di antaranya ditangkap dari habitatnya. Proses penjinakan seringkali melibatkan metode kekerasan, seperti pembiusan dan pengekangan yang menyebabkan luka dan trauma pada hewan. Data menunjukkan bahwa di India saat ini ada sekitar 2.700 gajah yang terkurung dalam penangkaran, dan jumlah ini menjadi perhatian serius bagi aktivis hak-hak hewan.
Pusat Penelitian Hak-Hak Binatang (CRAR) baru-baru ini melaporkan angka kematian yang meningkat pada gajah yang ditangkap, dengan 138 individu punah antara tahun 2018 hingga 2023. Data ini menunjukkan betapa mendesaknya masalah ini, dan sekaligus menyoroti perlunya pendekatan baru terhadap praktik keagamaan yang lebih beretika dan manusiawi.
Ketika robot gajah menjadi pilihan dalam upacara keagamaan, tampaknya ini membuka ruang bagi diskusi lebih lanjut mengenai nilai tradisi dan perilaku manusia terhadap hewan. Sementara banyak yang menyambut baik langkah ini sebagai perubahan positif dalam melindungi hak-hak hewan, tidak sedikit yang mempertanyakan apakah penggantian ini benar-benar bisa menggantikan kehadiran makhluk hidup yang selama berabad-abad berfungsi sebagai simbol dan pelaksana ritual keagamaan.