Pemandangan dari angkasa seringkali mengungkapkan keajaiban alam, tetapi di lepas pantai Dubai, keajaiban itu adalah hasil karya manusia. Garis-garis pantai buatan yang membentuk pohon palem raksasa dan peta dunia bukan lagi sekadar proyek ambisius, melainkan ikon yang mendunia. Pulau-pulau buatan ini tidak hanya mengubah garis pantai emirat secara dramatis, tetapi juga menandai babak baru dalam rekayasa geoteknik dan ambisi arsitektural. Proyek ini lahir dari visi untuk menjadikan Dubai sebagai destinasi global yang tak tertandingi.
Visi di Balik Proyek Raksasa
Pada awal tahun 2000-an, Dubai menghadapi sebuah tantangan unik. Meskipun memiliki kekayaan dan ambisi besar, garis pantainya relatif terbatas untuk menampung permintaan pariwisata mewah dan real estat premium yang terus melonjak. Para pemimpin Dubai, khususnya Sheikh Mohammed bin Rashid Al Maktoum, menyadari bahwa untuk tetap kompetitif, mereka harus menciptakan sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya. Jawaban dari tantangan ini adalah penciptaan lahan baru di laut dengan membangun pulau-pulau buatan.
Visi tersebut bukan sekadar untuk memperluas garis pantai, tetapi juga untuk menciptakan ikon yang akan menempatkan Dubai di peta dunia. Proyek ini harus mampu menarik perhatian global, baik untuk investasi maupun pariwisata. Ide untuk membentuk pulau-pulau dalam desain yang unik, seperti pohon palem dan peta dunia, lahir dari keinginan untuk membuat sesuatu yang tidak hanya fungsional tetapi juga spektakuler.