Selain naluri dasar, ada beberapa bias kognitif atau pola pikir irasional yang membuat kita lebih mudah terpengaruh oleh strategi ini. Salah satunya adalah negativity bias, yaitu kecenderungan otak kita untuk lebih memperhatikan dan mengingat informasi negatif dibanding informasi positif. Ancaman atau berita buruk terasa lebih penting dan berkesan, membuat pesan fear marketing lebih menancap di ingatan kita.
Ada juga loss aversion, sebuah teori yang menyatakan bahwa rasa sakit akibat kehilangan sesuatu jauh lebih kuat daripada kesenangan saat mendapatkan sesuatu. Fear marketing seringkali membingkai pesan sebagai "kehilangan" yang harus dihindari. Misalnya, kehilangan kesehatan, kehilangan harta benda, atau kehilangan data pribadi. Keinginan untuk menghindari kerugian ini mendorong kita untuk bertindak, bahkan jika risikonya sebenarnya kecil atau tidak pasti.
Terakhir, ada social proof, di mana kita cenderung mengikuti apa yang dilakukan orang lain. Jika sebuah kampanye fear marketing menunjukkan bahwa banyak orang lain juga cemas atau mengambil tindakan tertentu (misalnya, membeli asuransi), kita akan merasa perlu untuk ikut melakukannya agar tidak tertinggal atau dianggap tidak peduli.
Menciptakan Urgensi dan Rasa Takut Kehilangan (FOMO)
Salah satu taktik paling umum dalam fear marketing adalah menciptakan urgensi. Iklan seringkali menggunakan frasa seperti "persediaan terbatas," "penawaran berakhir malam ini," atau "jika tidak sekarang, kapan lagi?" Taktik ini memberi kita sedikit waktu untuk berpikir dan memaksa kita untuk membuat keputusan cepat. Kita takut melewatkan kesempatan atau, dalam kasus fear marketing, kita takut tidak bisa menghindari ancaman yang ada jika tidak segera bertindak.