Tampang

Kenapa Orang Lebih Percaya Testimoni daripada Data Ilmiah?

28 Agu 2025 14:07 wib. 34
0 0
Testimoni,
Sumber foto: Canva

 Kita sering dihadapkan pada dua jenis bukti yang berbeda: data ilmiah yang objektif dan testimoni pribadi yang subjektif. Anehnya, banyak orang justru lebih mudah yakin oleh cerita atau ulasan personal dari orang lain, bahkan jika data ilmiah menunjukkan hal yang sebaliknya. Fenomena ini bukan sekadar kebetulan, melainkan berakar pada cara kerja otak manusia yang secara alami lebih responsif terhadap narasi dan emosi daripada angka dan statistik.

Kekuatan Cerita: Koneksi Emosional yang Tak Tertandingi

Otak manusia dirancang untuk menyerap informasi dalam bentuk narasi. Sejak zaman prasejarah, nenek moyang kita menyampaikan pengetahuan dan pengalaman hidup melalui cerita. Cerita punya kekuatan untuk membangkitkan emosi, menciptakan koneksi pribadi, dan membuat informasi terasa lebih relevan. Saat kita membaca testimoni seseorang yang berhasil menurunkan berat badan atau menyembuhkan penyakit dengan metode tertentu, kita tidak hanya melihat hasilnya, tetapi juga mengalami perjalanan emosionalnya—perjuangan, harapan, dan keberhasilan.

Sebaliknya, data ilmiah seringkali disajikan dalam bentuk angka, grafik, dan metodologi yang kering. Meskipun valid, format ini tidak memicu respons emosional yang sama. Sebuah studi yang menunjukkan "tingkat efektivitas 90%" mungkin terdengar mengesankan, tetapi tidak akan pernah sekuat cerita seorang individu yang menceritakan bagaimana produk itu "mengubah hidupnya." Kita merasa terhubung dengan manusia di balik cerita, bukan dengan angka di balik penelitian.

Bias Kognitif: Perangkap Pikiran Kita Sendiri

Kecenderungan untuk lebih percaya pada testimoni juga didorong oleh beberapa bias kognitif yang ada dalam diri kita.

<123>

#HOT

0 Komentar

Belum ada komentar di artikel ini, jadilah yang pertama untuk memberikan komentar.

BERITA TERKAIT

BACA BERITA LAINNYA

POLLING

Dampak PPN 12% ke Rakyat, Positif atau Negatif?