Salah satu penjelasan yang mungkin mengapa tulisan tangan bisa menjadi jelek adalah karena individu tersebut mungkin lebih banyak berfokus pada ide-ide yang ingin mereka sampaikan daripada memperhatikan keindahan tulisan. Dalam banyak kasus, seseorang yang sibuk berpikir kreatif atau menyelesaikan masalah mungkin tidak sempat memikirkan bagaimana cara menulis dengan baik. Ini tidak berarti bahwa mereka kurang pintar, tapi justru menunjukkan cara berpikir yang aktif dan inovatif.
Sebagai tambahan, kemajuan teknologi saat ini juga berpengaruh terhadap cara orang menulis. Dengan adanya perangkat seperti laptop dan tablet, banyak orang yang lebih sering mengetik daripada menulis tangan. Hal ini menjadikan kemampuan menulis tangan mereka menurun, termasuk kerapian tulisan. Generasi yang tumbuh dengan teknologi mungkin lebih berfokus pada penyampaian informasi dengan cepat dan efisien, bukan penampilan tulisan. Dampak ini menjadi semakin jelas ketika kita memperhatikan pola komunikasi dalam dunia digital yang menggunakan emoji, GIF, dan gambar sebagai pengganti teks.
Mitos tulisan tangan yang buruk mencerminkan kecerdasan ini sering kali berkaitan dengan kecenderungan untuk mengklasifikasikan orang berdasarkan satu atribut fisik. Hal ini dapat berbahaya, karena menanamkan anggapan yang salah bahwa individu dengan tulisan tangan yang buruk tidak memiliki kemampuan berpikir yang baik. Sementara itu, kecerdasan adalah konsep yang jauh lebih kompleks dan beragam. Secara umum, kecerdasan tidak bisa diukur hanya dengan satu indikator, seperti tulisan tangan.