Tutup Iklan
JasaReview
  
login Register
Review Film My Sister's Keeper (2009)

Review Film My Sister's Keeper (2009)

18 Juni 2018 | Dibaca : 3268x | Penulis : Dika Mustika

Sehat rasanya adalah hal yang menjadi keinginan setiap orang. Namun, adakalanya sakit pun tak bisa terhindarkan, khususnya sakit yang cukup berat. Baru-baru ini aku menonton film mengenai kehidupan sebuah keluarga dengan adanya salah seorang anggota keluarga yang mengidap penyakit kanker.  Menarik bagaimana film My Sister Keeper ini memberikan pandangan yang berbeda mengenai bukan hanya penderita sakitnya, tapi bagaimana dinamika dalam keluarga penderita sakit tersebut.

Dikisahkan ada sebuah keluarga dengan 2 anak. Dalam perjalanan keluarga ini, ternyata anak pertama mereka menderita kanker. Dan karenanya ia harus melalui berbagai perawatan yang di dalamnya membutuhkan pendonor. Seperti yang sudah diketahui, bahwa tidak mudah menemukan pendonor yang cocok dan aman. Atas saran seorang dokter, mereka disarankan untuk memiliki anak lagi. Anak ke-3 ini memang ‘dirancang’ untuk menjadi donor untuk kakakknya.

Setelah anak ke-3 ini lahir, ia memang bisa menyelamatkan kakaknya lewat berbagai donor yang dilakukannya. Awalnya, kupikir, oke ternyata ‘rencana rancangan’ dari dokter dan orangtuanya sukses. Tapi ternyata dari dinamika pendonoran inilah timbul konflik. Ketika semua perhatian orangtua tertumpah pada anak pertama yang sakit, seolah adik-adiknya bukanlah hal yang diperhatikan oleh orangtua mereka. Hingga akhirnya anak ke-3 ini menuntut orangtuanya sendiri karena ‘dipaksa’ untuk menjadi donor untuk kakakknya.

Film ini membuat penonton memiliki sudut pandang yang berbeda tentang bagaimana cara kita peduli pada seseorang yang sakit. Dan menariknya lagi, anti klimaks dari film ini sungguh tak disangka. Bagaimana antar anggota keluarga menunjukkan rasa cinta di antara mereka dengan caranya masing-masing. Dari film ini, kita dapat belajar bagaimana cara melindungi anggota keluarga kita dengan berbagai cara. Cara yang anti mainstream ini lah yang dalam praktiknya mungkin menimbulkan konflik baru, jika tidak dikomunikasikan dengan baik. Film ini juga menunjukkan bahwa seseorang yang menderita penyakit berat, punya cara sendiri bagaimana untuk bertahan hidup, dan juga mereka punya hak untuk menentukan bagaimana hidup mereka ketika semua upaya sudah dilakukan untuk mempertahankan hidupnya. Selama ini mungkin kita sering berpikir bahwa kewajiban kita lah menolong seseorang yang sakit, namun film ini memberi pandangan yang berbeda tentang hak seseorang yang sakit juga. Dan yang membuat haru adalah ketika film ini mengajarkan mengenai makna ikhlas. Jadi teringat sebuah cuplikan yang pernah kudengar tentang ini, terkadang kita habis-habisan menolong seseorang (yang sakit) sebenarnya kita musti melihat juga motif apakah kita melakukan ini. Adakanya motifnya bukan semata-mata menolong oranglain, namun menolong diri sendiri, karena kita (mungkin) takut menerima kenyataan bahwa kita akan kehilangan mereka suatu hari nanti. Catatan akhir, ini mungkin bergenre film drama keluarga, namun tidak cocok ditonton oleh anak-anak.   

#Tagar Berita

Artikel Terkait

Artikel Lainnya

agnez mo
13 Oktober 2017, by Yusef Maulana
Penyanyi berusia 31 tahun, Agnez Mo, baru saja meluncurkan album Internasional pertamanya, yang diberi judul X. Album yang diluncurkan pada tanggal 10 Oktober ...
Mengenal Kekayan Alam Indonesia: 4 Jenis Tanaman Asli Indonesia
14 Juni 2018, by oteli w
Mengenal Kekayan Alam Indonesia: 4 Jenis Tanaman Asli Indonesia   Indonesia terkenal memiliki hutan tropis yang cukup luas dan menyimpan banyak ...
Siapa Sangka, Inilah Khasiat Jahe untuk Perawatan Kecantikan
9 Mei 2018, by Slesta
Tampang.com – Jahe menjadi salah satu bahan dapur yang memiliki khasiat yang tinggi bagi kesehatan tubuh. Tidak hanya untuk dikonsumsi dengan cara ...
Penmpiln Persiter Ternate masih belum Tunjukkan Performa Baik di Liga 3 Indonesia
29 November 2017, by Admin
Tampang.com – Laga perdana Persiter Ternate pada putaran nasional Liga 3 belum mampu menunjukkan tanda-tanda baik. Tim asuhan Alfian Rivai itu hanya ...
Kisah Inspiratif Seorang Nenek Petani Cabai Mampu Naik Haji
7 Agustus 2017, by Slesta
Tampang.com – Dilansir dari Liputan6.com, Sebuah kisah menginspirasi juga menyentuh hati datang dari seorang nenek petani cabai bernama Mbah Nafingah. Ia ...
 
Copyright © Tampang.com
All rights reserved
 
Tutup Iklan
hijab