Tutup Iklan
hijab
  
login Register
Review Film My Sister's Keeper (2009)

Review Film My Sister's Keeper (2009)

18 Juni 2018 | Dibaca : 620x | Penulis : Dika Mustika

Sehat rasanya adalah hal yang menjadi keinginan setiap orang. Namun, adakalanya sakit pun tak bisa terhindarkan, khususnya sakit yang cukup berat. Baru-baru ini aku menonton film mengenai kehidupan sebuah keluarga dengan adanya salah seorang anggota keluarga yang mengidap penyakit kanker.  Menarik bagaimana film My Sister Keeper ini memberikan pandangan yang berbeda mengenai bukan hanya penderita sakitnya, tapi bagaimana dinamika dalam keluarga penderita sakit tersebut.

Dikisahkan ada sebuah keluarga dengan 2 anak. Dalam perjalanan keluarga ini, ternyata anak pertama mereka menderita kanker. Dan karenanya ia harus melalui berbagai perawatan yang di dalamnya membutuhkan pendonor. Seperti yang sudah diketahui, bahwa tidak mudah menemukan pendonor yang cocok dan aman. Atas saran seorang dokter, mereka disarankan untuk memiliki anak lagi. Anak ke-3 ini memang ‘dirancang’ untuk menjadi donor untuk kakakknya.

Setelah anak ke-3 ini lahir, ia memang bisa menyelamatkan kakaknya lewat berbagai donor yang dilakukannya. Awalnya, kupikir, oke ternyata ‘rencana rancangan’ dari dokter dan orangtuanya sukses. Tapi ternyata dari dinamika pendonoran inilah timbul konflik. Ketika semua perhatian orangtua tertumpah pada anak pertama yang sakit, seolah adik-adiknya bukanlah hal yang diperhatikan oleh orangtua mereka. Hingga akhirnya anak ke-3 ini menuntut orangtuanya sendiri karena ‘dipaksa’ untuk menjadi donor untuk kakakknya.

Film ini membuat penonton memiliki sudut pandang yang berbeda tentang bagaimana cara kita peduli pada seseorang yang sakit. Dan menariknya lagi, anti klimaks dari film ini sungguh tak disangka. Bagaimana antar anggota keluarga menunjukkan rasa cinta di antara mereka dengan caranya masing-masing. Dari film ini, kita dapat belajar bagaimana cara melindungi anggota keluarga kita dengan berbagai cara. Cara yang anti mainstream ini lah yang dalam praktiknya mungkin menimbulkan konflik baru, jika tidak dikomunikasikan dengan baik. Film ini juga menunjukkan bahwa seseorang yang menderita penyakit berat, punya cara sendiri bagaimana untuk bertahan hidup, dan juga mereka punya hak untuk menentukan bagaimana hidup mereka ketika semua upaya sudah dilakukan untuk mempertahankan hidupnya. Selama ini mungkin kita sering berpikir bahwa kewajiban kita lah menolong seseorang yang sakit, namun film ini memberi pandangan yang berbeda tentang hak seseorang yang sakit juga. Dan yang membuat haru adalah ketika film ini mengajarkan mengenai makna ikhlas. Jadi teringat sebuah cuplikan yang pernah kudengar tentang ini, terkadang kita habis-habisan menolong seseorang (yang sakit) sebenarnya kita musti melihat juga motif apakah kita melakukan ini. Adakanya motifnya bukan semata-mata menolong oranglain, namun menolong diri sendiri, karena kita (mungkin) takut menerima kenyataan bahwa kita akan kehilangan mereka suatu hari nanti. Catatan akhir, ini mungkin bergenre film drama keluarga, namun tidak cocok ditonton oleh anak-anak.   

#Tagar Berita

Artikel Terkait

Artikel Lainnya

Kiat Agar Kita Sehat di Saat Puasa
26 Mei 2018, by Maman Soleman
Berpuasa adalah menjadikan tubuh manusia sehat dan terhindar dari berbagai gejala penyakit. Nabi Muhammad saw. bersabda yang diriwayatkan oleh Thabrani dari ...
Siapa Sangka 7 Kado Ini Menjadi Kado Terbaik untuk Hari Ibu, Apa Saja?
22 Desember 2017, by Slesta
Tampang.com – Tanggal 22 Desember tepatnya pada hari ini adalah Hari Ibu. Setiap orang merayakan hari ibu dengan memberikan kado terbaik untuk sang ibu ...
Inilah Waktu Anak Belajar Tanggung Jawab
17 Juli 2018, by Slesta
Tampang.com – Tanggungjawab menjadi salah satu hal yang wajib diajarkan kepada anak sejak kecil. Orangtua harus mampu mendidik tanggungjawab kepada sang ...
5 Tempat Favorit Ngabuburit di Kota Cirebon
31 Mei 2017, by Retno Indriyani
Tampang.com - Bulan suci Ramadhan merupakan bulan yang sangat ditunggu oleh umat muslim. Selain karena pahala ibadah yang berlipat ganda ternyata banyak ...
Dengarkan Musik Bahagia untuk Tingkatkan Kreativitas
12 September 2017, by Rindang Riyanti
Mendengarkan musik yang bahagia dapat membantu menghasilkan lebih banyak memberikan solusi inovatif, menurut sebuah studi yang diterbitkan di jurnal akses ...
 
Copyright © Tampang.com
All rights reserved
 
Tutup Iklan
JasaReview