Tutup Iklan
hijab
  
login Register
Review Film My Sister's Keeper (2009)

Review Film My Sister's Keeper (2009)

18 Juni 2018 | Dibaca : 4003x | Penulis : Dika Mustika

Sehat rasanya adalah hal yang menjadi keinginan setiap orang. Namun, adakalanya sakit pun tak bisa terhindarkan, khususnya sakit yang cukup berat. Baru-baru ini aku menonton film mengenai kehidupan sebuah keluarga dengan adanya salah seorang anggota keluarga yang mengidap penyakit kanker.  Menarik bagaimana film My Sister Keeper ini memberikan pandangan yang berbeda mengenai bukan hanya penderita sakitnya, tapi bagaimana dinamika dalam keluarga penderita sakit tersebut.

Dikisahkan ada sebuah keluarga dengan 2 anak. Dalam perjalanan keluarga ini, ternyata anak pertama mereka menderita kanker. Dan karenanya ia harus melalui berbagai perawatan yang di dalamnya membutuhkan pendonor. Seperti yang sudah diketahui, bahwa tidak mudah menemukan pendonor yang cocok dan aman. Atas saran seorang dokter, mereka disarankan untuk memiliki anak lagi. Anak ke-3 ini memang ‘dirancang’ untuk menjadi donor untuk kakakknya.

Setelah anak ke-3 ini lahir, ia memang bisa menyelamatkan kakaknya lewat berbagai donor yang dilakukannya. Awalnya, kupikir, oke ternyata ‘rencana rancangan’ dari dokter dan orangtuanya sukses. Tapi ternyata dari dinamika pendonoran inilah timbul konflik. Ketika semua perhatian orangtua tertumpah pada anak pertama yang sakit, seolah adik-adiknya bukanlah hal yang diperhatikan oleh orangtua mereka. Hingga akhirnya anak ke-3 ini menuntut orangtuanya sendiri karena ‘dipaksa’ untuk menjadi donor untuk kakakknya.

Film ini membuat penonton memiliki sudut pandang yang berbeda tentang bagaimana cara kita peduli pada seseorang yang sakit. Dan menariknya lagi, anti klimaks dari film ini sungguh tak disangka. Bagaimana antar anggota keluarga menunjukkan rasa cinta di antara mereka dengan caranya masing-masing. Dari film ini, kita dapat belajar bagaimana cara melindungi anggota keluarga kita dengan berbagai cara. Cara yang anti mainstream ini lah yang dalam praktiknya mungkin menimbulkan konflik baru, jika tidak dikomunikasikan dengan baik. Film ini juga menunjukkan bahwa seseorang yang menderita penyakit berat, punya cara sendiri bagaimana untuk bertahan hidup, dan juga mereka punya hak untuk menentukan bagaimana hidup mereka ketika semua upaya sudah dilakukan untuk mempertahankan hidupnya. Selama ini mungkin kita sering berpikir bahwa kewajiban kita lah menolong seseorang yang sakit, namun film ini memberi pandangan yang berbeda tentang hak seseorang yang sakit juga. Dan yang membuat haru adalah ketika film ini mengajarkan mengenai makna ikhlas. Jadi teringat sebuah cuplikan yang pernah kudengar tentang ini, terkadang kita habis-habisan menolong seseorang (yang sakit) sebenarnya kita musti melihat juga motif apakah kita melakukan ini. Adakanya motifnya bukan semata-mata menolong oranglain, namun menolong diri sendiri, karena kita (mungkin) takut menerima kenyataan bahwa kita akan kehilangan mereka suatu hari nanti. Catatan akhir, ini mungkin bergenre film drama keluarga, namun tidak cocok ditonton oleh anak-anak.   

#Tagar Berita

Artikel Terkait

Artikel Lainnya

Kita Hidup di Zona Waktu Masing-Masing
17 Januari 2018, by Jenis Jaya Waruwu
Pernahkah kamu mendengar kalimat ”hidup adalah perjuangan?” Ya, kalimat di atas merupakan bentuk respon positif terhadap segala sesuatu mengenai ...
Joko "Gethuk" Susilo Kemungkinan Tetap Latih Arema Fc Walau Kontrak Belum Jelas
18 November 2017, by Admin
Tampang.com  – Arema FC hampir pasti mempertahankan Joko ”Gethuk” Susilo untuk musim kompetisi tahun depan. Kendati demikian, hingga ...
Wow! Biofuel dapat Diproduksi dari Cyanobacteria
23 Agustus 2017, by Rindang Riyanti
Sebuah perusahaan Bay Area telah mematenkan tiga kelompok kelompok organisme bersel satu, mirip ganggang yang jika ditanam bersama dapat menghasilkan gula ...
Ikuti 8 Langkah Memijat ini untuk Cegah Penuaan Pada Wajah
16 Juli 2018, by Retno Indriyani
Tampang.com - Wajah merupakan bagian tubuh yang biasanya paling diperhatikan oleh sebagian besar orang. Banyak orang terutama wanita yang melakukan berbagai ...
Tahun-Tahun Mendatang, Ubur-Ubur Kemungkinan Menjadi Pengganti Kentang, Jika ...
17 Agustus 2017, by Ghilman Azka Fauzan
Tampang.com - Jika peristiwa pemanasan global makin parah, kemungkinan besar kentang tak lagi dapat tumbuh dengan baik. Di sisi lain, ubur-ubur akan meningkat ...
 
Copyright © Tampang.com
All rights reserved
 
Tutup Iklan
hijab