Tutup Iklan
powerman
  
login Register
Mengenai Regulasi, Uber Mengharapkan Dapat Dipertimbangkan Ulang

Mengenai Regulasi, Uber Mengharapkan Dapat Dipertimbangkan Ulang

5 Juli 2017 | Dibaca : 374x | Penulis : Ghilman Azka Fauzan

Tampang.com - Per 1 Juli, seperti yang kita ketahui tarif baru untuk taksi online resmi diberlakukan. Tarif ini mengikuti Peraturan Menteri Perhubungan (PM) nomor 26 tahun 2017 tentang Penyelenggaraan Angkutan Orang dengan Kendaraan Bermotor Umum Tidak dalam Trayek.

Bagi pihak layanan taksi online, peraturan tersebut sebenarnya kurang disetujui. Namun apa daya, mereka tetap harus menyetujui regulasi yang diatur.

Dalam blog resmi Uber, mereka menyebut bahwa revisi aturan tersebut justru berisiko menghambat berbagai manfaat yang dihadirkan ridesharing kepada para penumpang, mitra-pengemudi dan kota-kota.

Mereka pun menyodorkan data-data hasil riset AlphaBeta mengenai manfaat layanan ridesharing sepertinya. Hasil riset itu menyebutkan di antaranya penumpang bisa menghemat 65 persen dari biaya dan 38 persen dari waktu perjalanan dengan menggunakan aplikasi Uber dibandingkan saat menggunakan kendaraan pribadi.

Pihak Uber berharap bahwa peraturan tersebut perlu dipertimbangkan ulang. Terutama mengenai tarif dan pembatasan kuota.

Baca Juga: Terhitung 1 Juli 2017, Pemerintah Berlakukan Tarif Baru Bagi Taksi Online

Peraturan tersebut dianggap menghalangi warga biasa yang ingin berbagi tumpangan dan membatasi akses warga terhadap layanan yang terjangkau dan nyaman.

"Hal-hal ini juga bertentangan dengan prinsip koperasi; serta berbeda dengan langkah pemerintah kota DKI Jakarta yang tahun 2016 menghapus kuota dan batasan tarif taksi demi terciptanya persaingan yang sehat dan memandang kuota dan biaya perjalanan ridesharing tidak perlu diatur karena melihat perbedaan model bisnisnya," tulis dalam blog tersebut.

Blog resmi Uber itu pun menuliskan Indonesia adalah negara yang dikenal terbuka dengan tren ekonomi global, teknologi baru dan mendorong ekonomi kerakyatan, namun dengan revisi aturan-aturan ini, Indonesia tidak bisa mengambil manfaat penuh dari model bisnis dan inovasi ridesharing.

"Kami berkomitmen untuk bekerja sama dengan para pelaku industri dan pemerintah untuk mencari jalan ke depan yang memungkinkan perusahaan-perusahaan teknologi seperti kami dapat mengubah kehidupan warga menjadi lebih baik," lanjut tulisannya.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya

Apakah Mengkonsumsi Coklat Bagus Untuk Kulit Kita?
5 Oktober 2017, by Rio Nur Arifin
Mengandung penuh antioksidan, cokelat semakin mendapat tempat di antara lingkaran makanan-makanan sehat. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa coklat dapat ...
Bisakah Mengurangi Penyakit Maag dengan Berpuasa?
24 Mei 2018, by Maman Soleman
Penyakit maag banyak disebabkan oleh pola makan yang buruk, seperti telat makan atau berlebihan dalam makan. Tapi, apakah penyakit itu bisa disembuhkan? Jika ...
Bukti Indonesia Hebat: Ternyata Orang Indonesia Penemu Konstruksi Cakar Ayam
24 April 2018, by oteli w
Bukti Indonesia Hebat: Ternyata Orang Indonesia Penemu Konstruksi Cakar Ayam   Konstruksi cakar ayam adalah salah satu metode rekayasa teknik dalam ...
George H.W. Bush Dirawat di Rumah Sakit dengan Tekanan Darah Rendah
28 Mei 2018, by Slesta
Mantan Presiden George H.W. Bush dirawat di rumah sakit pada hari Minggu setelah mengalami tekanan darah rendah dan kelelahan, kata seorang juru ...
PILKADA JABAR : Elektabilitas Asyik Naik, Salip Rindu?
27 Maret 2018, by Slesta
Tampang.com – Menghadapi PILKADA 2018 mendatang, masing – masing pasangan memiliki strategi masing – masing untuk memenangkan PILKADA ...
 
Copyright © Tampang.com
All rights reserved
 
Tutup Iklan
powerman