Tutup Iklan
hijab
  
login Register
6 BUMN Malah Merugi Setelah Disuntik Modal Negara

6 BUMN Malah Merugi Setelah Disuntik Modal Negara

12 September 2017 | Dibaca : 560x | Penulis : Alfi Wahyu Prasetyo

Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan ada enam perusahaan yang kerugiannya bertambah berdasarkan data laba-rugi Badan Usaha Milik Negara tahun 2016. Padahal, kata dia, pemerintah telah menyuntikannya dana penyertaan modal negara (PMN).

“Sebanyak 13 persen atau enam BUMN rugi bersihnya bertambah,” ujar dia di Ruang Rapat Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat, Jakarta, Kamis, 7 September 2017.
 
BUMN yang rugi bersih 2016-nya bertambah setelah mendapatkan PMN, kata dia, adalah PT Dok Perkapalan Surabaya, PT Dirgantara Indonesia, PT Perkebunan Nusantara X, PT Perkebunan Nusantara IX, PT Perkebunan Nusantara VII, dan PT Perkebunan Nusantara III.
 
Langkah mitigasi yang dilakukan, kata Sri, adalah melakukan monitoring dan evaluasi terhadap PMN. Selain itu juga meminta perusahaan melakukan efisiensi terhadap biaya operasional masing-masing. “Kami juga telah meminta Wakil Menteri Keuangan Mardiasmo untuk memanggil dan melihat kinerja dari BUMN-BUMN itu, serta meminta Menteri BUMN Rini Sumarno untuk lebih mengawasi (kinerja BUMNnya),” ujarnya.
 
Secara keseluruhan, kata Sri, sebesar 87 persen BUMN yang menerima PMN tahun 2015-2016 kinerja keuangannya positif. “Jadi 26 BUMN laba bersihnya naik,” kata dia. Selanjutnya sembilan BUMN plus Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia mengalami penurunan laba bersih setelah menerima PMN dan empat BUMN mengalami penurunan rugi bersih setelah menerima modal.
 
Pada tahun 2016, Sri berujar, penggunaan PMN untuk BUMN mencapai 31 persen. “Dari alokasi sebesar Rp 48 triliun,  telah terealisasi penggunaannya sebesar Rp 15,3 triliun,” ujarnya. Perusahaan yang penggunaan PMNnya mencapai 100 persen antara lain Askrindo, Perum Jamkrindo, SMI, PII, dan SMF. Semetara BUMN yang penggunaan PMNnya masih di bawah 25 persen atau tidak sesuai dengan business plan adalah Jasa Marga, Angkasa Pura II, Krakatau Steel, INKA, Barata, Hutama Karya, WIKA, PT Pembangunan Perumahan, Perum Perumnas,dan Perum Bulog.
 
Penyebabnya, kata dia, antara lain lantaran sebagian proyek masih dalam proses pembebasan lahan atau masih dalam proses tender. Penyebab lainnya adalah pembayaran perkerjaan dilakukan sesuai dengan termin dalam kontrak.
 
“Kementerian Keuangan telah meminta BUMN penerima PMN yang belum optimal penggunaan PMN-nya dan secara korporasi memungkinkan, agar hasil penempatan dana menjadi top up dividen,” ujar Sri.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya

Tak Hanya Buat Bahagia, Ini Fakta Menarik Lain Tentang Tertawa
10 Februari 2018, by Ghilman Azka Fauzan
Tampang.com - Menyebarkan semangat positif pada orang lain tentunya menjadi hal yang baik untuk dilakukan. Salah satu caranya adalah dengan tertawa. Semua ...
Ketua MPR Himbau Pemudik Hati-hati Selama Berkendara
23 Juni 2017, by Rahmat Zaenudin
Tampang.com- Puncak arus mudik yang diprediksi terjadi pada hari ini, dipastikan ribuan kendaraan baik roda dua maupun roda empat akan memadati sepanjang jalan ...
Tolak Jadi Politisi, Hotman Paris Sebut Dirinya Lebih Populer Dari Partai Politik
17 Maret 2018, by Jenis Jaya Waruwu
Siapa yang tak kenal dengan Hotman Paris, pengacara kelas atas yang telah bergelut dalam perkara-perkara besar baik di Indonesia maupun di luar negeri. Gaya ...
Ini Lho Tanda Suami bahagia dalam Pernikahan
3 Mei 2017, by herline
Tak jarang timbul pertanyaan dalam benak seorang istri : "Apakah  dia (suami) bahagia dengan pernikahan ini?" Dan pertanyaan yang demikian ...
Menarik! Bukan Social Media Influencer, Tapi Social Media Strategist
2 September 2017, by Amalia Aisyah
Seorang pemuda yang diketahui tengah stay di Colorado, Amerika Serikat, menggunakan akun instagram pribadinya sebagai tempat dimana ia bisa menceritakan ...
 
Copyright © Tampang.com
All rights reserved
 
Tutup Iklan
JasaReview