Meski merasa tidak nyaman, mereka tetap melanjutkan perjalanan.
Ketika matahari mulai terbenam, kabut tebal turun dengan cepat dan tiba-tiba mereka melihat jalan tanah yang mengarah ke sebuah desa kecil yang tidak pernah mereka lihat di peta. Tanpa sadar, mereka telah memasuki Dusun Mayit.
Desa yang Terjebak dalam Waktu
Ketika mereka masuk, suasana desa terasa aneh. Semua rumah tampak tua, lampu minyak menyala, dan para penduduk mengenakan pakaian seperti dari era kolonial. Tidak ada sinyal, tidak ada suara kendaraan, dan tidak ada teknologi modern.
Namun yang paling membuat merinding — para penduduk tersenyum tanpa ekspresi, mata mereka tampak kosong, seolah menyimpan beban tak terlihat.
Seorang tetua desa menyambut mereka, memperingatkan bahwa mereka tidak boleh keluar setelah gelap karena “para penjemput” akan datang mencari jiwa yang tersesat.
Rahasia Kelam Dusun Mayit: Kutukan yang Belum Terputus
Melalui investigasi mereka dan interaksi dengan beberapa penduduk yang tampak ingin membantu, Ranu dkk menemukan fakta mengejutkan:
-
Pada masa penjajahan, dusun itu menjadi lokasi pembantaian besar-besaran oleh pasukan kolonial.
-
Para penduduk dibantai dan dikubur hidup-hidup di satu lubang besar karena dituduh menyembunyikan pemberontak.
-
Arwah mereka tidak pernah tenang dan desa itu akhirnya terjebak dalam “dimensi terkutuk”, hidup berulang dalam lingkaran waktu misterius.
Setiap orang asing yang masuk ke desa dianggap sebagai “jiwa baru” untuk memperkuat keberadaan desa tersebut, sehingga mereka tidak bisa keluar tanpa “tumbal”.
Mencekam: Kejar-kejaran dengan Penjemput Arwah
Ketika malam tiba, teror mencapai puncaknya. Makhluk-makhluk bertopeng kain putih — disebut “penjemput” — mulai berkeliaran, mencari dan mengejar tiga mahasiswa tersebut. Mereka bergerak tanpa suara, seakan melayang, dan setiap langkah mereka disertai gemerincing bel kecil.