Laras dan anak mereka ikut merasakan gangguan aneh:
-
lampu berkedip saat tagihan jatuh tempo,
-
jendela bergetar setiap kali Arman menerima pesan ancaman dari penagih,
-
dan bau busuk seperti kertas terbakar yang muncul tanpa alasan.
Sosok ‘Penagih’ Supranatural
Arman mulai melihat sosok berwujud makhluk tinggi kurus, bermata merah, membawa buku catatan lusuh penuh angka-angka hutang. Setiap kali Arman gagal membayar angsurannya, sosok itu semakin jelas terlihat dan semakin dekat.
Film menunjukkan bahwa makhluk ini bukan sekadar halusinasi ia adalah manifestasi supranatural dari riba itu sendiri, entitas yang diberi kekuatan oleh rasa takut, ketamakan, dan keputusasaan manusia.
Klimaks: Hutang yang Menagih Nyawa
Semakin Arman terlambat membayar, semakin sering makhluk tersebut muncul, hingga akhirnya mulai menyerang fisik. Puncaknya, makhluk itu tidak lagi memburu Arman saja, tetapi juga keluarganya membuktikan bahwa hutang dan riba selalu memakan lebih dari sekadar uang.
Dalam adegan paling mencekam, Arman menemukan catatan bahwa makhluk tersebut “menagih” bukan hanya uang, tetapi jiwa orang yang menandatangani kontrak sebagai jaminan. Laras memaksa Arman mengakhiri semuanya tetapi yang membuat film ini menegangkan adalah bahwa tidak ada cara biasa untuk melunasi kontrak itu.
Arman harus memilih antara mengorbankan dirinya atau melanggar aturan supranatural yang dapat membahayakan keluarganya. Ending film ini digarap dengan twist emosional dan adegan kejar-kejaran yang intens antara manusia dan makhluk yang mewujud dari keserakahan sistem riba.
Makna dan Kritik Sosial di Balik Terornya
Film ini tidak hanya menawarkan jumpscare, tetapi juga pesan yang kuat: