Dalam konteks ini, tanpa figur sentral yang kuat dan proses konsolidasi yang transparan, PKS bisa berada dalam risiko stagnasi suara atau bahkan penurunan dibanding 2024—terutama bila narasi “partai yang tidak konsisten” terus menguat di media sosial dan ruang publik.
Kepemimpinan Partai: Figur Presiden PKS yang Kurang Terkenal
BERBEDA DENGAN beberapa partai lain yang memiliki figur sekelas Ganjar Pranowo, Prabowo Subianto, atau bahkan Anies Baswedan sendiri, Presiden PKS periode 2025–2030 kurang dikenal luas di publik umum. Ini menciptakan masalah ganda: bukan hanya kehilangan koneksi dengan basis pemilih yang kecewa, tetapi juga kesulitan membangun narasi positif yang kuat di luar segmen pemilih tradisional PKS.
Harga Tinggi Ketidakkonsistenan Politik
Langkah PKS dalam mencabut dukungan kepada Anies Baswedan mungkin tampak sebagai keputusan taktis dalam konstelasi koalisi. Namun dampaknya jauh lebih strategis: ia merusak kepercayaan pemilih yang sudah terbentuk, memicu kekecewaan, dan menciptakan celah besar yang bisa dimanfaatkan pesaing politik.
Jika PKS ingin menghindari penurunan suara signifikan di 2029, maka partai perlu:
- Memperbaiki hubungan dengan basis pemilih yang kecewa,
- Memperkuat komunikasi nilai dan konsistensi politik,
- Mengangkat figur sentral yang populer dan dipercaya publik, dan
- Mengelola narasi partai secara transparan.
Tanpa langkah-langkah ini, stagnasi suara bisa berubah menjadi penurunan yang nyata — sebuah harga yang mahal dalam dinamika politik modern yang bergerak cepat dan selalu diukur oleh persepsi publik.