Ketergantungan emosional juga memainkan peran penting dalam mengapa seseorang bertahan di hubungan yang tidak memuaskan. Ketergantungan emosional ditandai dengan rasa kebutuhan yang mendalam terhadap kehadiran pasangan, meskipun hubungan tersebut merugikan. Individu yang mengalami ketergantungan emosional sering kali merasa tidak mampu menjalani hidup tanpa kehadiran orang lain. Dalam banyak kasus, mereka percaya satu-satunya cara untuk merasa lengkap adalah melalui pasangan, meskipun pasangan tersebut mungkin tidak memberikan kebahagiaan yang diharapkan. Perasaan terjebak ini sering kali diperparah oleh rasa takut akan kesepian dan kehilangan.
Fenomena trauma bond juga bisa menjadi alasan mengapa kita bertahan dalam hubungan yang toksik. Trauma bond terjadi ketika individu merasa terikat secara emosional kepada pasangan yang menyakiti mereka, akibat dari pengalaman bersama yang intens dan konflik yang berulang. Rasa sakit dan kesenangan yang campur aduk membuat ikatan ini terasa sulit untuk diputuskan. Dalam konteks ini, pelaku sering kali memanfaatkan manipulasi emosional untuk mempertahankan hubungan, menciptakan rasa bersalah pada pasangan tentang keputusan untuk pergi.
Persepsi sosial tentang cinta juga dapat mempengaruhi keputusan seseorang untuk bertahan dalam hubungan yang tidak membahagiakan. Banyak orang tumbuh dengan keyakinan bahwa cinta harus diperjuangkan, bahkan ketika itu berarti menanggung penderitaan. Media seringkali menggambarkan hubungan yang penuh pengorbanan sebagai sesuatu yang romantis, sehingga individu merasa terdorong untuk tetap bertahan dalam hubungan yang sulit.