Penurunan minat baca ini mengindikasikan bahwa masyarakat kini lebih cenderung menghabiskan waktu dengan aktivitas di dunia maya, seperti scrolling di media sosial, dibandingkan dengan menyelami karya sastra yang dapat merangsang pikiran dan memperkaya pengetahuan.
Namun, kritik terhadap kebiasaan membaca ini tidak sepenuhnya adil. Penelitian yang dilakukan pada tahun 2023 oleh Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) juga mengungkapkan bahwa 34 persen orang dewasa di Amerika Serikat memperoleh nilai terendah dalam kemampuan berhitung.
Angka tersebut meningkat dari 29 persen setahun sebelumnya. Hal ini menunjukkan bahwa masalah kognitif tidak hanya terbatas pada kemampuan membaca, tetapi juga mencakup kemampuan matematika dan analisis yang lebih mendasar.
Perubahan dalam cara manusia mengonsumsi informasi juga memainkan peran penting dalam fenomena ini. Dengan tanpa disadari, cara kita berinteraksi dengan informasi telah berubah drastis, dan ini berdampak pada kemampuan untuk berpikir kritis dan terlibat dengan materi yang kompleks.
Era digital telah menawarkan akses informasi yang jauh lebih cepat dan mudah, tetapi sering kali dengan biaya kualitas. Penelitian menunjukkan bahwa waktu yang terhabiskan di layar, atau "screen time", telah merusak kemampuan verbal anak-anak dan menyulitkan mahasiswa untuk berkonsentrasi dan menyimpan informasi yang mereka pelajari.
Satu yang menarik untuk dicatat adalah bahwa media yang kita gunakan untuk menerima informasi juga telah berkembang. Sering kali, informasi yang kita konsumsi bersifat dangkal dan tidak mendalam. Berita instan dan konten singkat yang dirancang untuk cepat ‘konsumsi’ memerlukan perhatian yang sekejap, tetapi kehilangan esensi dari analisis mendalam dan pemikiran kritis yang diperlukan untuk memahami isu-isu yang kompleks. Akibatnya, generasi muda menjadi terbiasa dengan informasi yang disajikan secara ringkas dan cepat, tanpa mempertimbangkan argumen yang lebih mendalam.