Di tengah hamparan Samudra Pasifik yang luas, terdapat ribuan pulau kecil dan atol yang menjadi rumah bagi jutaan manusia. Keindahan dan keberadaan mereka terancam oleh fenomena global yang tak terbantahkan: kenaikan air laut. Bagi negara-negara seperti Kiribati, Tuvalu, dan Kepulauan Marshall, ancaman ini bukan lagi sekadar teori ilmiah, melainkan kenyataan yang mereka hadapi setiap hari. Kejadian ini menjadi salah satu dampak paling dramatis dari perubahan iklim, menempatkan seluruh populasi, budaya, dan ekosistem di ujung tanduk.
Peran Pemanasan Global sebagai Aktor Utama
Penyebab utama kenaikan permukaan air laut adalah pemanasan global, yang dipicu oleh emisi gas rumah kaca dari aktivitas manusia. Kenaikan suhu atmosfer memiliki dua dampak langsung pada lautan. Pertama, es di kutub dan gletser mencair dengan cepat. Es di Greenland, Antartika, dan gletser di pegunungan mencair dalam jumlah yang tak pernah terjadi sebelumnya, melepaskan miliaran ton air ke lautan.
Kedua, fenomena yang disebut ekspansi termal terjadi. Air laut, sama seperti zat lainnya, akan memuai ketika suhunya meningkat. Saat samudra menyerap panas berlebih dari atmosfer, volume airnya bertambah, menyebabkan permukaan air laut naik. Kedua proses ini, pencairan es dan ekspansi termal, bekerja secara sinergis dan menjadi pendorong utama kenaikan air laut yang mengancam pulau-pulau di Pasifik.
Kerentanan Unik Pulau-Pulau Pasifik
Banyak negara pulau di Pasifik adalah atol dan pulau karang dataran rendah. Atol adalah cincin pulau yang terbentuk dari terumbu karang yang tumbuh di sekitar gunung berapi yang tenggelam. Ketinggiannya hanya beberapa meter di atas permukaan laut. Kerentanan geografis inilah yang membuat mereka sangat rentan terhadap kenaikan air laut.