Memahami disonansi kognitif sangat penting karena konsep ini menjelaskan mengapa manusia sering kali bersikap tidak logis atau bahkan irasional. Ini bukan tentang kebodohan, melainkan tentang kebutuhan mendalam untuk konsistensi psikologis. Konsep ini membantu kita memahami banyak fenomena sosial, termasuk:
Penyebaran hoaks: Seseorang yang sudah meyakini sebuah teori konspirasi akan sulit menerima fakta yang bertentangan. Mereka akan mencari informasi yang mendukung keyakinan mereka (menambahkan kognisi baru) dan menolak fakta yang membantah (menghindari disonansi).
Loyalitas merek: Setelah membeli produk mahal, pelanggan cenderung lebih setia pada merek tersebut karena mereka sudah menginvestasikan uang dan waktu. Mereka akan meyakinkan diri bahwa produk itu memang yang terbaik untuk menghindari disonansi pasca-keputusan.
Perubahan sikap: Disonansi kognitif sering digunakan dalam terapi atau persuasi. Jika seseorang bisa didorong untuk melakukan perilaku kecil yang bertentangan dengan keyakinan lama, disonansi akan muncul. Untuk mengurangi ketidaknyamanan, ia mungkin akan mengubah keyakinan lamanya agar sesuai dengan perilaku baru tersebut.
Namun, disonansi kognitif juga bisa berbahaya. Ketika seseorang terus-menerus membenarkan perilaku buruk, seperti kekerasan atau ketidakjujuran, mekanisme ini bisa membuat mereka semakin terjerumus dalam pola tersebut. Dengan kata lain, disonansi kognitif adalah pedang bermata dua; bisa membantu kita membenarkan keputusan yang baik, tetapi juga bisa membenarkan keputusan yang buruk.