Tidak hanya itu, Guswanto juga menegaskan bahwa fenomena suhu dingin ini tidak berkaitan dengan kondisi langit tanpa awan (clear sky). Saat ini, wilayah Indonesia mengalami angin yang tenang di malam hari, yang menghambat pencampuran udara, sehingga udara dingin terperangkap di permukaan bumi.
Selain itu, daerah dataran tinggi atau pegunungan juga cenderung lebih dingin karena tekanan udara dan kelembaban yang lebih rendah. Kondisi dingin ini merupakan fenomena umum yang sering terjadi di Indonesia saat musim kemarau.
Menurut Guswanto, dari data suhu malam hari yang tercatat pada bulan Juli hingga Agustus, suhu udara yang biasanya 21-23 derajat Celcius, kini bisa mencapai 17-19 derajat Celcius.
Selain memahami penjelasan dari BMKG, penting bagi masyarakat untuk tetap waspada terhadap dampak suhu udara dingin ini, terutama yang berada di daerah yang rentan terhadap perubahan suhu. Suhu udara yang terlalu dingin dapat mempengaruhi kesehatan tubuh, terutama bagi yang lebih rentan terhadap gangguan pernapasan dan alergi.