Para pelaut di belahan bumi utara, terutama dari Eropa dan Timur Tengah, mendominasi eksplorasi dan perdagangan dunia selama berabad-abad. Mereka adalah pembuat peta terkemuka pada zamannya. Peta-peta yang mereka buat, seperti yang disusun oleh Gerardus Mercator pada abad ke-16, menjadi model standar yang digunakan di seluruh dunia. Peta Mercator, yang menempatkan Eropa di tengah dan utara di atas, menjadi sangat populer di kalangan pelaut karena proyeksinya yang membantu navigasi. Secara tidak langsung, ini juga memperkuat konvensi bahwa utara adalah arah utama, arah "yang benar".
Peta sebagai Cerminan Kekuasaan
Di luar alasan teknis, ada juga faktor politik dan kekuasaan yang berperan. Sejarah kartografi modern didominasi oleh peradaban dari belahan bumi utara. Bangsa-bangsa dari Eropa, yang menjadi kekuatan kolonial dan ekonomi dominan selama berabad-abad, memiliki pengaruh besar dalam menentukan bagaimana dunia dipetakan dan dipersepsikan. Dengan menempatkan diri mereka di bagian atas peta, secara simbolis mereka juga menempatkan diri di posisi puncak atau superior.
Belahan bumi utara, yang dianggap sebagai "dunia atas," secara psikologis dikaitkan dengan kekuasaan, kekayaan, dan perkembangan, sementara belahan selatan—"dunia bawah"—sering kali dikaitkan dengan kemiskinan dan keterbelakangan. Narasi ini diperkuat oleh peta yang kita kenal, meskipun tidak ada dasar ilmiah yang mendukungnya. Sebagian kartografer dari belahan bumi selatan bahkan pernah mencoba membuat peta yang menempatkan selatan di atas, namun peta-peta ini tidak pernah mendapatkan popularitas global. Hal ini menunjukkan betapa kuatnya konvensi yang sudah terbentuk.