Cara mengatasinya: Luangkan waktu berkualitas setiap hari, setidaknya 10-20 menit, untuk berinteraksi dengan anak tanpa gangguan. Bisa dengan bermain bersama, mengobrol, atau sekadar mendengarkan mereka. Dengan begitu, anak merasa cukup diperhatikan tanpa harus mencari validasi secara berlebihan.
3. Tantrum untuk Mendapatkan Keinginannya Tantrum bukan sekadar strategi manipulasi, melainkan sinyal bahwa anak sedang kewalahan dan tidak tahu bagaimana menyalurkan emosinya dengan benar. Biasanya, hal ini terjadi karena mereka merasa tidak didengar, kehilangan kendali, atau mengalami terlalu banyak rangsangan dari lingkungan.
Cara mengatasinya: Tetap tenang dan validasi perasaan mereka. Katakan, "Mama/Papa tahu kamu sedang kesal sekarang." Lalu, tawarkan kenyamanan, misalnya dengan mengatakan, "Mama/Papa di sini sampai kamu merasa lebih baik." Dengan pendekatan ini, anak belajar mengelola emosinya melalui dukungan, bukan dengan kendali ketat.
4. Enggan Bertanggung Jawab Jika anak sering menghindari tugas seperti membereskan mainan atau mengerjakan pekerjaan rumah, bukan berarti mereka malas. Bisa jadi mereka terlalu sering dilindungi dari tantangan atau, sebaliknya, dipaksa mandiri sebelum waktunya.
Cara mengatasinya: Berikan tanggung jawab yang sesuai dengan usianya dan ajak anak terlibat dalam tugas rumah tangga secara kolaboratif, misalnya memasak bersama. Fokus pada usaha yang mereka lakukan, bukan hanya pada hasil akhirnya, agar anak merasa percaya diri dan lebih mandiri.
5. Kurang Bersyukur dan Mudah Frustrasi Anak yang tampak tidak bersyukur atau cepat frustrasi ketika tidak mendapatkan sesuatu bukan berarti egois. Hal ini sering kali disebabkan oleh kurangnya koneksi emosional dengan orang tua atau kurangnya kendali atas hal-hal dalam hidup mereka.