Gigi bungsu, atau yang dikenal juga sebagai molar ketiga, seringkali menjadi sumber masalah bagi banyak orang. Gigi ini biasanya mulai tumbuh di usia remaja akhir atau awal dua puluhan, di saat gigi-gigi lainnya sudah tumbuh sempurna. Banyaknya keluhan yang muncul seputar gigi bungsu, mulai dari rasa sakit, gusi bengkak, hingga masalah yang lebih serius, membuat gigi ini mendapat reputasi buruk. Sebenarnya, mengapa gigi bungsu sering sekali bermasalah, dan apa penyebab utamanya? Untuk memahami itu, kita perlu melihat kembali evolusi manusia dan anatomi rahang kita.
Evolusi dan Ukuran Rahang yang Menyusut
Ribuan tahun lalu, nenek moyang kita memiliki rahang yang lebih besar untuk mengunyah makanan yang lebih kasar, seperti daging mentah dan tumbuh-tumbuhan yang belum diolah. Gigi bungsu saat itu punya fungsi yang sangat penting dalam membantu proses pengunyahan ini. Namun, seiring berjalannya evolusi dan perubahan pola makan manusia menjadi lebih modern (makanan yang lebih lunak, dimasak, dan diproses), ukuran rahang manusia juga perlahan-lahan menyusut.
Sayangnya, proses penyusutan rahang ini tidak diimbangi dengan berkurangnya jumlah gigi. Akibatnya, saat gigi bungsu mulai tumbuh di akhir masa remaja, seringkali tidak ada lagi ruang yang cukup di bagian belakang rahang untuk menampungnya dengan sempurna. Keterbatasan ruang inilah yang menjadi pemicu utama hampir semua masalah gigi bungsu.
Gigi Impaksi: Posisi Tumbuh yang Salah
Kurangnya ruang di rahang menyebabkan gigi bungsu tidak bisa tumbuh tegak lurus seperti gigi lainnya. Kondisi ini disebut gigi impaksi. Gigi bungsu yang impaksi bisa tumbuh dengan posisi yang miring, horizontal (mendatar), atau bahkan tertanam di bawah gusi dan menekan gigi molar kedua di sebelahnya.