Kesenjangan kekayaan dan pendapatan adalah masalah yang sudah ada sejak lama dalam sejarah peradaban manusia. Fenomena ini bukan sekadar persoalan angka-angka statistik, melainkan juga akar dari berbagai gejolak sosial dan politik. Di mana pun ketidaksetaraan ekonomi merajalela, di sanalah benih-benih ideologi yang menuntut keadilan sosial mulai tumbuh. Ideologi ini lahir sebagai respons kritis terhadap sistem yang dianggap gagal memberikan kesempatan yang sama dan mendistribusikan kemakmuran secara adil kepada semua lapisan masyarakat.
Ketidaksetaraan Ekonomi: Sebuah Pemicu Ketidakpuasan
Ketidaksetaraan ekonomi terjadi ketika distribusi kekayaan dan pendapatan tidak merata. Sebagian kecil populasi menguasai mayoritas sumber daya, sementara sebagian besar lainnya berjuang untuk memenuhi kebutuhan dasar. Kondisi ini bisa memicu ketidakpuasan yang mendalam karena beberapa alasan.
Pertama, adanya perasaan ketidakadilan. Ketika seseorang melihat kerja kerasnya tidak sebanding dengan hasil yang diterima, sementara segelintir orang menikmati kemewahan tanpa terlihat bersusah payah, rasa frustrasi pun muncul. Ini adalah perasaan bahwa sistem yang ada tidak adil dan tidak memberikan imbalan yang proporsional atas usaha. Kedua, berkurangnya mobilitas sosial. Dalam masyarakat yang sangat tidak setara, peluang untuk naik kelas ekonomi seringkali terbatas. Seseorang yang lahir miskin cenderung akan tetap miskin, sementara yang lahir kaya akan tetap berada di puncak. Keterbatasan ini menghancurkan harapan dan memicu keputusasaan.
Ketidaksetaraan ekonomi juga bisa merusak kohesi sosial. Ketika jurang antara "punya" dan "tidak punya" semakin lebar, masyarakat cenderung terpolarisasi. Rasa saling percaya antar kelompok sosial memudar, dan muncul rasa iri, kebencian, bahkan konflik. Ketidakstabilan ini menciptakan lingkungan yang matang bagi munculnya ide-ide baru yang menawarkan solusi radikal terhadap masalah yang ada.