Selanjutnya, antibiotik, termasuk penisilin dan sefalosporin, diperlukan untuk mengatasi infeksi bakteri. Penting untuk diingat bahwa meskipun antibiotik terbukti efektif, banyak pasien yang tidak menyelesaikan rangkaian pengobatan. Hal ini bisa menyebabkan infeksi kembali kambuh dan berpotensi menimbulkan masalah ginjal yang serius. Obat Proton Pump Inhibitor (PPI) juga perlu dicermati. Obat ini digunakan untuk mengurangi masalah lambung, namun jika digunakan dalam dosis tinggi dalam waktu yang lama, risiko penyakit ginjal bisa meningkat signifikan. Contoh dari obat PPI adalah omeprazole dan lansoprazole. Obat yang digunakan untuk menurunkan tekanan darah, seperti angiotensin-converting enzyme inhibitor (ACEI) dan angiotensin II receptor blocker (ARB), memiliki manfaat besar bagi penderita hipertensi untuk mengontrol tekanan darah dan mengurangi risiko gangguan jantung. Namun, walaupun memiliki manfaat, tidak jarang obat-obatan ini menimbulkan efek samping yang dapat memengaruhi kesehatan ginjal.
Suplemen herbal juga tidak boleh diabaikan. Beberapa suplemen berisiko tinggi terhadap ginjal, terutama ketika dikombinasikan dengan obat resep. Misalnya, suplemen yang mengandung asam aristolochic yang sering ditemui di produk herbal, diyakini dapat menyebabkan cedera ginjal kronis. Obat-obatan psikiatris untuk mengatasi masalah kesehatan mental juga berpontensi berisiko. Obat-obatan seperti fluoxetine atau litium dapat mempengaruhi ginjal, terutama pada individu yang kelebihan dosis. Hal ini disebabkan oleh kerusakan otot yang bisa menyebabkan pelepasan mioglobin ke dalam darah, yang kemudian harus disaring oleh ginjal. Obat diuretik, yang sering digunakan untuk mengatasi hipertensi dan pembengkakan, bisa berujung pada dehidrasi, yang pada gilirannya membahayakan ginjal. Beberapa diuretik yang umum digunakan adalah torsemide, furosemide, dan bumetanide.