Di sisi lain, ekspektasi terhadap penurunan suku bunga oleh Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) turut memperkuat daya tarik emas. Proyeksi pemangkasan suku bunga ini membuat aset yang tidak memberikan imbal hasil seperti emas menjadi lebih menarik, terutama dalam konteks imbal hasil obligasi yang turun. Banyak analis pasar kini memasukkan kemungkinan pemotongan setidaknya dua kali suku bunga sepanjang 2026 sebagai faktor pemicu minat beli emas.
Perak Cetak Rekor Sejarah
Selain emas, perak juga mencuri perhatian pasar. Harga perak di pasar spot naik sekitar 0,7% menjadi USD 71,77 per ons, setelah sebelumnya mencapai titik tertinggi dalam sejarah di USD 83,62 per ons pada awal pekan. Kenaikan ini mengungguli emas dalam persentase pertumbuhan tahunan, karena perak mencatat lonjakan yang jauh lebih tinggi sepanjang tahun lalu.
Pada 2025, perak mengalami pertumbuhan luar biasa dengan kenaikan lebih dari 147%, jauh melampaui emas yang sudah mengalami reli signifikan. Lonjakan harga perak didorong oleh beberapa faktor, termasuk peningkatan permintaan industri dan investasi, keterbatasan pasokan, serta statusnya sebagai mineral penting di sektor industri, terutama di Amerika Serikat.
Logam lain seperti platinum dan palladium juga menunjukkan performa luar biasa pada periode yang sama. Platinum melonjak sekitar 127%, sementara palladium naik sekitar 76%, mencerminkan permintaan yang kuat dari sektor industri dan otomotif.
Respons Pasar dan Proyeksi 2026
Para analis pasar menilai reli awal tahun ini memberi sinyal bahwa emas dan perak masih memiliki ruang untuk bergerak lebih tinggi. Kombinasi antara ketidakpastian geopolitik, kebijakan moneter yang longgar, serta pergeseran preferensi investor menuju aset yang lebih aman menjadi katalis utama tren ini.