Di seluruh dunia, gambar seekor merpati putih sudah dikenal secara universal sebagai lambang perdamaian. Simbol ini begitu kuat, sering muncul dalam demonstrasi, karya seni, hingga logo-logo organisasi kemanusiaan. Namun, pernahkah terlintas di pikiran dari mana asal usulnya? Mengapa dari sekian banyak burung, justru merpati yang terpilih untuk mewakili gagasan luhur tentang perdamaian dan harmoni?
Merpati dalam Tradisi dan Mitologi Kuno
Narasi tentang merpati sebagai simbol perdamaian bermula jauh sebelum era modern. Dalam mitologi Yunani kuno, merpati adalah hewan suci yang dikaitkan dengan Aphrodite, dewi cinta, kecantikan, dan seksualitas. Kehadiran merpati di sisi Aphrodite melambangkan cinta yang lembut dan penuh kasih, yang secara tidak langsung juga merupakan elemen penting dari perdamaian. Konsep ini kemudian diadopsi oleh bangsa Romawi yang mengaitkan merpati dengan Venus, dewi mereka yang setara dengan Aphrodite. Bagi mereka, merpati sering digambarkan bersarang di dekat cangkir Venus, melambangkan harapan akan keharmonisan dalam rumah tangga.
Selain itu, beberapa tradisi di Timur Tengah juga menempatkan merpati dalam posisi yang dihormati. Misalnya, dalam mitologi Sumeria, merpati dikaitkan dengan Inanna/Ishtar, dewi yang berhubungan dengan kesuburan dan perang, namun juga digambarkan dengan merpati, yang bisa melambangkan aspek kehidupan dan rekonsiliasi. Hubungan dengan dewi kesuburan dan cinta ini secara perlahan menempatkan merpati dalam asosiasi positif yang melampaui konflik dan kekerasan.