Seberapa Berbahaya Penyebaran Campak?
Menurut Michael Head, peneliti senior di bidang kesehatan global dari Universitas Southampton, penularan campak mirip dengan COVID-19, yaitu melalui droplet pernapasan dan aerosol. Virus ini sangat menular dan dapat menyebar dengan cepat dari satu individu ke individu lainnya.
"Infeksi ini dapat menyebabkan ruam dan demam pada kasus ringan, tetapi dalam kasus yang lebih berat, bisa menyebabkan ensefalitis (pembengkakan otak), pneumonia, bahkan kebutaan," tulisnya dalam The Conversation.
Risiko kematian akibat campak juga cukup tinggi, terutama bagi mereka yang tidak divaksinasi. Di negara maju, tingkat kematian akibat campak diperkirakan satu dari 1.000 hingga satu dari 5.000 kasus.
"Setiap orang yang terinfeksi campak rata-rata akan menularkan virus ini ke 12 hingga 18 orang lainnya. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan COVID-19," jelasnya.
Meski sangat menular, campak sebenarnya dapat dicegah dengan vaksinasi. Vaksin MMR (campak, gondongan, dan rubella) diketahui memberikan perlindungan lebih dari 99% jika diberikan dalam dua dosis.
Misinformasi: Faktor Utama Penyebaran Campak di Eropa
Selain rendahnya cakupan vaksinasi, faktor utama yang memperparah wabah ini adalah misinformasi.
Michael Head menyoroti bagaimana hoaks terkait vaksin telah merusak kepercayaan masyarakat terhadap imunisasi. Salah satu kasus paling terkenal adalah klaim palsu dari mantan dokter Andrew Wakefield di Inggris pada tahun 2002. Ia menyebarkan informasi bahwa vaksin MMR dapat menyebabkan autisme.
Meskipun makalahnya kemudian ditarik dari jurnal medis The Lancet, dampaknya masih terasa hingga saat ini. Banyak orang tua yang enggan memberikan vaksin kepada anak-anak mereka karena ketakutan yang tidak berdasar.