Para tenaga medis kembali mengingatkan masyarakat akan bahaya demam berdarah dengue (DBD), terutama bila seseorang mengalami infeksi berulang. Penyakit yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti ini ternyata bukan hanya bisa dialami sekali dalam hidup, melainkan berulang kali karena adanya empat serotipe virus dengue yang berbeda. Ketika seseorang terpapar lebih dari satu kali, kondisi tersebut justru berisiko menimbulkan gejala yang jauh lebih berat, bahkan dapat mengancam jiwa. Hal ini ditegaskan oleh dokter spesialis anak Rumah Sakit Borromeus Bandung, dr. Tony Ijong Dachlan, Sp.A, dalam gelar wicara memperingati Hari Ulang Tahun RS Borromeus ke-104 pada Minggu lalu. Ia menjelaskan bahwa dari berbagai data yang dihimpun, sekitar 45 persen kematian akibat dengue terjadi pada kelompok usia anak 5–14 tahun, yang merupakan golongan paling rentan. Ironisnya, pada orang dewasa, infeksi yang tidak menimbulkan gejala pun tetap berbahaya karena bisa menjadi sumber penularan bagi anggota keluarga lain yang tinggal serumah.
Menurut dr. Tony, inilah alasan mengapa langkah pencegahan wajib dimulai dari lingkungan terdekat, yakni rumah. Mengendalikan nyamuk, menjaga kebersihan, serta mencegah perkembangbiakan jentik merupakan bentuk perlindungan utama yang harus dilakukan secara konsisten. Hal senada disampaikan pula oleh dr. Stephanie Yuliana Usman, Sp.PD, dokter spesialis penyakit dalam RS Borromeus, yang menambahkan bahwa hingga saat ini belum ditemukan obat khusus yang benar-benar mampu membunuh virus dengue. Semua terapi medis yang ada hanya berfungsi meredakan gejala, menjaga kestabilan pasien, dan mencegah komplikasi. Karena itu, pada pasien dengan penyakit penyerta seperti obesitas, diabetes melitus, gangguan ginjal, atau hipertensi, kondisi DBD berpotensi berkembang menjadi lebih parah sehingga memerlukan kewaspadaan ekstra.