Jakarta — Layar bioskop kembali diguncang oleh film aksi-distopia berjudul The Running Man, sebuah adaptasi yang menyajikan kombinasi ketegangan tinggi, adrenalin nonstop, dan kritik sosial terselubung. Film ini, yang mengangkat tema tentang permainan mematikan dan hiburan berbasis kekerasan, berhasil menarik perhatian penggemar thriller di seluruh dunia.
Berlatar di masa depan, di mana dunia dikendalikan oleh rezim otoriter dan media menjadi alat propaganda paling kuat, The Running Man menghadirkan kisah yang menegangkan sekaligus menggugah kesadaran penonton tentang bahaya penguasa yang mengontrol informasi dan emosi masyarakat.
Sinopsis: Hidup atau Mati di Arena Hiburan Penuh Bahaya
Film ini mengikuti Ben Richards, seorang mantan polisi yang secara keliru dituduh sebagai pengkhianat negara dan dijadikan peserta dalam “The Running Man”, sebuah acara televisi yang menjadi hiburan massal di dunia dystopian tersebut. Dalam permainan ini, para kontestan dipaksa berlari melalui arena penuh jebakan, pemburu bayaran, dan rintangan mematikan. Hanya satu yang bisa bertahan hidup.
Ben Richards digambarkan sebagai sosok tangguh namun manusiawi, dengan motivasi kuat untuk bertahan hidup bukan hanya untuk dirinya, tetapi juga untuk menyuarakan kebenaran dan membongkar kebohongan pemerintah yang menjeratnya. Ia harus mengandalkan kecerdikan, kekuatan fisik, serta kemampuan beradaptasi dalam menghadapi para pemburu profesional yang dilengkapi senjata canggih dan teknologi pengawasan tinggi.
Film ini menampilkan atmosfer tegang dan mencekam sejak menit pertama, dengan adegan pembuka yang menunjukkan penangkapan Ben, tuduhan palsu yang dilontarkan kepadanya, dan kemunculannya di arena yang dikawal ketat oleh pasukan elit. Penonton segera diseret ke dalam dunia brutal di mana hiburan dan kematian berjalan berdampingan.