Baidu yang dulunya dianggap sebagai raja mesin pencari di China kini mulai kesulitan dalam bersaing di bidang teknologi kecerdasan buatan (AI). Setelah mencuri perhatian dunia pada tahun 2022 dengan kemunculan ChatGPT di Amerika Serikat, industri teknologi berubah dengan cepat, dan Baidu yang merupakan salah satu pionir di sector ini terpaksa berusaha keras untuk tetap relevan. Dalam beberapa bulan terakhir, berita tentang kemunduran Baidu dalam persaingan AI semakin mencuat, mengindikasikan bahwa mereka harus berjuang lebih keras untuk memperluas adopsi dari chatbot terbaru mereka, Ernie.
Baidu baru-baru ini mengumumkan peluncuran dua model AI yang dapat diakses secara gratis, salah satunya adalah Ernie X1, yang difokuskan pada kemampuan penalaran. Model ini menjanjikan kinerja yang setara dengan DeepSeek R1, yang belakangan ini sangat digemari di kalangan pengguna di China. Dikatakan bahwa Ernie X1 memiliki kekuatan dalam pemahaman dan perencanaan, serta kemampuan refleksi dan evolusi yang lebih baik daripada pendahulunya.
Model penalaran adalah tipe model bahasa besar yang memiliki kemampuan untuk memecah tugas yang kompleks menjadi beberapa bagian yang lebih sederhana, sehingga dapat memberikan jawaban yang lebih relevan dan bermanfaat. Dengan pendekatan ini, diharapkan Ernie X1 dapat menyelesaikan masalah dengan cara yang lebih manusiawi dan intelektual.
Dari data yang diperoleh, CNBC Internasional menunjukkan bahwa model penalaran ini sangat penting bagi Baidu karena bisa jadi kunci untuk mengembalikan posisi dominan mereka di pasar. Lian Jye Su, seorang kepala analis di Omdia, menegaskan bahwa peluncuran model-model baru ini dapat membuat Baidu kembali bersaing, di tengah tergerusnya posisinya akibat peluncuran model serupa oleh perusahaan lain.