Penguatan mata uang Dolar AS turut menjadi penekan utama bagi instrumen perak global. Ketika Dolar AS menguat, harga komoditas yang ditransaksikan dalam mata uang tersebut menjadi jauh lebih mahal bagi para pembeli atau investor yang menggunakan mata uang lain. Di saat yang sama, tingginya yield obligasi Treasury mengikis daya tarik aset non-imbal hasil (non-yielding assets) seperti emas dan perak, karena investor cenderung beralih ke instrumen pasar uang yang menawarkan yield lebih pasti.
Berdasarkan kalkulasi FedWatch Tool milik CME Group, para pelaku pasar saat ini memprediksikan probabilitas sebesar 70 persen bagi The Fed untuk kembali menaikkan suku bunga pada Oktober, serta peluang hingga 95 persen untuk kenaikan lanjutan pada Desember.
Kini, para pelaku pasar dan investor domestik maupun global tetap mencermati rilis data ekonomi penting Amerika Serikat, seperti data tenaga kerja ADP, indeks konsumsi pribadi (PCE), hingga data non-farm payrolls, yang diprediksi akan menjadi penentu arah pergerakan harga perak maupun komoditas logam mulia lainnya dalam beberapa waktu ke depan.