TikTok Lakukan PHK Massal, Nasib Karyawan di Seluruh Dunia Terancam
Tanggal: 22 Feb 2025 13:57 wib.
Tampang.com | TikTok, salah satu platform media sosial terbesar di dunia, kembali menjadi sorotan setelah melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) massal yang berdampak pada karyawan di seluruh dunia. Sejumlah pegawai di unit keamanan yang menangani moderasi konten menjadi korban kebijakan restrukturisasi ini.
Dilansir dari Reuters, dua sumber menyebutkan bahwa Kepala Operasi TikTok, Adam Presser, yang juga membawahi unit tersebut, mengirimkan memo kepada staf pada Kamis (20/2/2025) untuk menginformasikan keputusan tersebut. PHK mulai dilakukan pada hari yang sama dan memengaruhi tim di berbagai wilayah, termasuk Asia, Eropa, Timur Tengah, dan Afrika.
TikTok dan Langkah Besarnya dalam Restrukturisasi
TikTok tidak segera menanggapi permintaan konfirmasi terkait PHK massal ini. Namun, keputusan tersebut tampaknya merupakan bagian dari upaya perusahaan dalam menyesuaikan diri dengan tantangan industri teknologi yang terus berkembang, terutama terkait isu keamanan dan regulasi yang semakin ketat.
Langkah PHK ini terjadi di tengah ketidakpastian mengenai masa depan TikTok, terutama di Amerika Serikat. Aplikasi video pendek yang digunakan oleh hampir separuh penduduk AS itu berada dalam posisi sulit setelah pemerintah AS mengeluarkan undang-undang pada 19 Januari yang mengharuskan ByteDance, perusahaan induk TikTok yang berbasis di China, untuk menjual aplikasi tersebut atau menghadapi potensi pemblokiran di negara tersebut. Kebijakan ini diambil atas dasar alasan keamanan nasional.
PHK dan Isu Regulasi di AS
TikTok menghadapi tekanan besar dari pemerintah AS dan para legislator yang mencurigai adanya ancaman keamanan nasional terkait kepemilikan ByteDance. Pada Januari tahun lalu, CEO TikTok, Shou Chew, memberikan kesaksian di depan Kongres AS bersama dengan CEO Meta, Mark Zuckerberg, serta beberapa kepala teknologi lainnya. Dalam dengar pendapat tersebut, para anggota parlemen menuduh perusahaan-perusahaan teknologi gagal melindungi anak-anak dari meningkatnya ancaman pemangsaan seksual di platform mereka.
Menanggapi hal tersebut, TikTok berjanji akan mengalokasikan lebih dari $2 miliar untuk memperkuat sistem kepercayaan dan keamanannya. Namun, tekanan dari pemerintah AS terus berlanjut, yang berujung pada kebijakan PHK kali ini.
Dampak PHK Massal dan Pergeseran Strategi TikTok
Ini bukan pertama kalinya TikTok melakukan PHK dalam skala besar. Pada Oktober tahun lalu, perusahaan memberhentikan ratusan karyawan global, termasuk sejumlah besar staf di Malaysia. Keputusan tersebut diambil karena TikTok mulai mengalihkan fokusnya ke penggunaan kecerdasan buatan (AI) untuk meningkatkan moderasi konten.
Menurut pernyataan resmi perusahaan sebelumnya, TikTok memiliki sekitar 40.000 profesional di bidang kepercayaan dan keamanan di seluruh dunia. Namun, Reuters belum dapat memastikan sejauh mana jumlah karyawan yang terkena dampak dari pemutusan hubungan kerja kali ini.
Dalam beberapa tahun terakhir, TikTok telah berinvestasi besar-besaran dalam teknologi AI untuk membantu proses moderasi konten. Langkah ini diambil guna meningkatkan efisiensi dan mengurangi keterlibatan manusia dalam menyaring konten yang tidak pantas. Meskipun demikian, peralihan ini juga menimbulkan kekhawatiran akan hilangnya ribuan pekerjaan di sektor tersebut.
Reaksi Pasar dan Masa Depan TikTok
Langkah PHK yang dilakukan TikTok telah menimbulkan berbagai reaksi dari industri teknologi, terutama dari para karyawan yang terkena dampaknya. Banyak yang mempertanyakan apakah kebijakan ini benar-benar langkah efisien atau justru dapat melemahkan upaya perusahaan dalam menjaga keamanan dan kepercayaan pengguna.
Selain itu, ketidakpastian mengenai masa depan TikTok di AS masih menjadi perhatian utama. Jika ByteDance gagal menjual TikTok sesuai dengan tuntutan pemerintah AS, aplikasi ini berisiko diblokir sepenuhnya di salah satu pasar terbesarnya. Hal ini tentu akan berdampak besar pada pertumbuhan dan pendapatan perusahaan.
Di sisi lain, TikTok terus mencari cara untuk bertahan dan berkembang di tengah tekanan ini. Beberapa laporan menyebutkan bahwa ByteDance sedang menjajaki berbagai opsi, termasuk menjual sebagian sahamnya kepada investor di luar China agar dapat memenuhi tuntutan pemerintah AS tanpa harus kehilangan kendali penuh atas platform tersebut.
Kesimpulan
PHK massal yang dilakukan TikTok menandai babak baru dalam perjalanan perusahaan di tengah persaingan industri teknologi yang ketat dan tekanan regulasi yang semakin besar. Langkah ini mungkin menjadi bagian dari strategi jangka panjang perusahaan untuk tetap relevan di pasar global, terutama dengan semakin ketatnya regulasi mengenai keamanan data dan perlindungan pengguna.
Meskipun begitu, dampak dari keputusan ini masih harus terus dipantau. Apakah langkah TikTok untuk beralih ke AI dalam moderasi konten akan berhasil? Bagaimana kelanjutan nasib TikTok di AS? Semua pertanyaan ini masih belum memiliki jawaban pasti.
Yang jelas, para pengguna dan pelaku industri teknologi akan terus mengamati bagaimana TikTok menghadapi tantangan ini dan apakah keputusan yang diambil akan membawa perusahaan ke arah yang lebih baik atau justru sebaliknya.