TikTok di Ujung Tanduk di AS, Substack Siap Jadi Pengganti?
Tanggal: 26 Feb 2025 20:29 wib.
Nasib TikTok di Amerika Serikat kini berada dalam ketidakpastian yang cukup mengkhawatirkan. Meskipun Presiden AS, Donald Trump, telah menarik pemblokiran layanan ini secara nasional pada bulan Januari lalu, kepastian terhadap status TikTok masih akan diumumkan setelah melalui penundaan selama 90 hari, yang berarti hasil finalnya baru bisa dipastikan pada April mendatang. Ketidakpastian ini muncul lantaran kekhawatiran pemerintah AS mengenai keamanan data dan pengaruh aplikasi yang dimiliki oleh perusahaan China, ByteDance.
Dalam konteks ini, pemerintahan Trump telah mengajukan opsi di mana kepemilikan operasional TikTok di AS diharapkan dapat mencapai 50% bagi investor lokal. Langkah tersebut bertujuan untuk memberikan jaminan tambahan bagi pengguna TikTok di AS agar merasa lebih aman dalam menggunakan platform tersebut. Menarik perhatian, Trump menginisiasi pembentukan dana kekayaan negara (Sovereign Wealth Fund/SWF) yang diharapkan dapat digunakan untuk mengambil alih operasional TikTok secara lebih efektif.
Dengan ketidakpastian yang melingkupi nasib TikTok, berbagai perusahaan di AS sudah mulai mengembangkan alternatif pengganti aplikasi populer ini. Salah satu platform yang aktif melakukan pengembangan adalah Substack. Dikenal sebagai alat untuk penulis newsletter, Substack kini gencar memperkenalkan fitur video yang mirip dengan TikTok, serta menjanjikan imbalan finansial bagi kreator konten yang menggunakannya.
Kreator konten bernama Carla Laili Music adalah salah satu dari sekian banyak pengguna yang mulai beralih ke Substack. Setelah menghasilkan 200 video dan meraih jutaan tayangan serta ratusan ribu pengikut di YouTube, Carla memilih untuk berpindah ke Substack. Sebagai kreator konten di bidang makanan, Substack memungkinkan dirinya untuk menawarkan layanan berlangganan kepada penggemar, dengan harapan dapat meraup penghasilan yang lebih besar.
Data terbaru menunjukkan bahwa Carla Music berhasil meraih pendapatan sebesar US$200.000 (sekitar Rp3,2 miliar) setelah satu tahun berkarya di Substack. Pendapatannya tersebut ternyata melebihi apa yang ia dapatkan dari YouTube, sebagaimana disampaikan oleh CNBC International. Kesuksesan ini menjadi indikator bahwa Substack berusaha menyasar segmen kreator konten yang sebelumnya sangat bergantung pada TikTok dan platform sejenis.
Substack, yang didirikan di San Francisco pada tahun 2017, menerapkan model bisnis jelas, yakni menarik biaya berlangganan dari pengguna agar bisa mengakses newsletter dan konten kreator. Keunikan dari platform ini terletak pada kapasitasnya untuk menjalin hubungan langsung antara kreator dan audiens. Hal ini berbeda dengan model algoritma rumit yang diadopsi oleh TikTok, YouTube, dan platform sosial media lainnya.
Seiring dengan berkembangnya fungsi Substack, pada tahun ini mereka juga tengah memperluas platformnya untuk mencakup format video, mengingat bahwa tren konsumsi konten video semakin meningkat. Baru-baru ini, Substack mengumumkan bahwa kreator konten kini dapat mengunggah video dan memonetisasinya di platform mereka, mengikuti jejak TikTok dan YouTube yang telah lebih dahulu menguasai pasar video.
Dalam hal ini, Co-founder Substack Hamish McKenzie menegaskan bahwa di masa depan, fokus masyarakat akan lebih condong pada konten video. Penetrasi Substack ke dalam area video adalah langkah strategis untuk memastikan bahwa kreator konten memiliki opsi lain selain TikTok.
Hal ini juga selaras dengan kekhawatiran terhadap kemungkinan pemblokiran permanen TikTok di AS, yang terjadi pada bulan Januari lalu. Pada saat yang sama, TikTok juga sempat mengalami gangguan dengan ditutupnya akses selama beberapa jam dan menghilangnya aplikasi tersebut dari toko aplikasi Google dan Apple selama hampir sebulan.
Menjelang potensi pemblokiran yang dapat terjadi, Substack memanfaatkan momentum dengan meluncurkan pendanaan sebesar US$20 juta yang didedikasikan untuk kreator konten di platformnya. McKenzie menekankan bahwa jika TikTok benar-benar diblokir karena alasan politik, para kreator konten tidak memiliki banyak pilihan, dan ini tentunya berdampak besar pada kehidupan profesional mereka.
Dalam situasi seperti ini, satu-satunya upaya yang bisa dilakukan adalah memastikan bahwa audiens tidak terjebak dalam sistem platform lain yang tidak memiliki komitmen terhadap keberlangsungan hidup kreator konten.
Kekhawatiran akan pemblokiran TikTok di AS menjadi semakin mendalam, mengingat pentingnya platform ini bagi banyak kreator yang bergantung padanya untuk mengekspresikan kreativitas dan mencari nafkah.
Penmomentuan alternatif seperti Substack diharapkan dapat memberikan solusi bagi jutaan kreator konten yang menghadapi ketidakpastian akibat perkembangan politik dan kebijakan yang tidak menentu. Seiring dengan tren digital yang terus berkembang, pertarungan antara platform-platform baru dan yang sudah mapan seperti TikTok akan semakin menarik untuk diikuti dalam beberapa waktu ke depan.