Sumber foto: iStock

Nvidia Geser Fokus ke 'AI Agen', Saham Anjlok Gara-gara DeepSeek & Perang Dagang Trump

Tanggal: 25 Mar 2025 14:25 wib.
Dalam sebuah acara Nvidia GTC yang berlangsung di San Jose, California, pada tanggal 18 Maret 2024, CEO Nvidia, Jensen Huang, mengumumkan penyesuaian signifikan dalam strategi bisnis perusahaan. Huang menegaskan bahwa Nvidia tidak akan lagi mengandalkan model pelatihan AI seperti yang dilakukan sebelumnya, meskipun selama ini metode tersebut telah memberikan sumber pendapatan yang melimpah bagi perusahaan.

Perubahan tersebut menyiratkan bahwa Nvidia akan mengalihkan fokusnya menuju pengembangan apa yang disebut "AI Agen". Huang menjelaskan, "Jumlah komputasi yang dibutuhkan untuk AI Agen, sebagai hasil dari penalaran, adalah 100 kali lebih banyak daripada yang kita perkirakan setahun lalu." Pernyataan ini merujuk pada agen AI otonom yang mampu menyelesaikan tugas-tugas dengan sedikit intervensi manusia. Dengan perubahan arah ini, Nvidia berharap dapat menghadirkan teknologi yang lebih canggih dan bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari.

Di balik transisi ini, Huang berusaha membela keputusan Nvidia yang memilih untuk menjual chip AI dengan harga tinggi. Ia menyebut bahwa terdapat kesalahpahaman di kalangan publik mengenai harga chip ini, terlebih setelah munculnya perusahaan baru dari China, DeepSeek, yang menawarkan produk serupa dengan biaya jauh lebih rendah. Kehadiran DeepSeek ini, yang mampu mengembangkan AI dengan biaya yang lebih kompetitif, telah menjadi tantangan serius bagi Nvidia dan membuat sejumlah investor merasa was-was.

Kondisi ini semakin diperparah dengan situasi pasar yang volatile akibat dampak perang dagang yang dipicu oleh kebijakan Presiden AS, Donald Trump. Turbulensi tersebut telah menyebabkan penurunan signifikan dalam nilai kapitalisasi pasar perusahaan teknologi, termasuk Nvidia, yang kehilangan hampir US$600 miliar dalam satu hari pada bulan Januari 2025. Penurunan harga saham tersebut mencerminkan kekhawatiran yang mendalam akan masa depan industri teknologi AS di tengah persaingan global yang semakin ketat.

Dalam jeda presentasinya, Huang mengumumkan peluncuran chip terbaru perusahaan, GPU Blackwell Ultra, yang diharapkan akan hadir pada paruh kedua tahun ini. Chip ini dirancang untuk mendukung model AI yang lebih besar dan lebih kompleks, dengan kapasitas memori yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan generasi sebelumnya. Tidak hanya itu, Nvidia juga mempersiapkan dua chip baru lainnya, yaitu Vera Rubin yang akan dirilis pada tahun depan dan Feynman yang rencananya akan hadir pada tahun 2028.

Dari segi fungsionalitas, Huang mengungkapkan bahwa chip-chip ini memiliki dua tujuan utama, yaitu membantu sistem AI memberikan respons yang cepat kepada pengguna. "Kami percaya bahwa chip kami adalah satu-satunya yang dapat memenuhi kedua kriteria tersebut,” tambahnya. Ia menyamakan kemampuan tersebut dengan mesin pencari, di mana kecepatan dalam memberikan jawaban sangat penting untuk memastikan kepuasan pengguna.

Namun, meski Huang optimis dengan langkah strategis ini, reaksi pasar tidak sejalan dengan harapannya. Setelah presentasinya, saham Nvidia justru mengalami penurunan sebesar 3,4%. Investor tampaknya masih meragukan prospek jangka pendek Nvidia di tengah persaingan yang semakin ketat.

Lebih jauh, dampak negatif dari kebijakan perdagangan di bawah kepemimpinan Trump sangat terasa di kalangan perusahaan-perusahaan teknologi. Menurut data yang dirilis oleh Nasdaq, perusahaan-perusahaan terbesar kehilangan nilai pasar secara kolektif mencapai lebih dari US$750 miliar. Apple, sebagai salah satu pemimpin industri, mengalami kerugian terbesar hampir US$174 miliar. Sedangkan Nvidia mengalami penurunan nilai pasar hampir US$140 miliar.

Tiga perusahaan teknologi paling tertekan dalam satu hari adalah Tesla, Microsoft, dan Alphabet yang masing-masing kehilangan nilai pasarnya secara signifikan. Dalam konteks ini, Tesla bahkan mencatat penurunan harian tertinggi sekitar 15%, menandakan betapa besar dampak yang dirasakan oleh industri teknologi akibat volatilitas pasar.

Banyak investor mulai melepas saham mereka dalam sektor teknologi. Hal ini menjadi pertanda bahwa kekhawatiran mengenai perang dagang dan dampaknya terhadap fundamental perusahaan teknologi kian mendalam. Banyak dari perusahaan ini bergantung pada komponen dan manufaktur dari luar negeri, yang tentu saja menghadapi tantangan besar seiring dengan kebijakan nasional yang berorientasi pada peningkatan produksi lokal.

Dalam konteks ini, Nvidia selaku produsen semikonduktor tidak lepas dari dampak tersebut. Pengumuman Trump pekan lalu mengenai investasi besar dari TSMC, raksasa chip Taiwan sebesar US$100 miliar untuk memindahkan sebagian industri manufakturnya ke AS, menjadi berita yang berpotensi menghadirkan perubahan signifikan dalam cara perusahaan-perusahaan seperti Nvidia beroperasi.

Nvidia mengakui tantangan yang dihadapi dalam bersaing dengan perusahaan-perusahaan internasional, terutama yang menawarkan produk dengan biaya lebih rendah. Ini menegaskan perlunya inovasi dan adaptasi cepat di tengah dinamika pasar yang terus berubah, serta menyoroti pentingnya menjaga daya saing di level global.
Copyright © Tampang.com
All rights reserved