Lip-Bu Tan Jadi CEO Baru Intel: Mampukah Ia Kembalikan Kejayaan Chip Raksasa?
Tanggal: 19 Mar 2025 21:47 wib.
Baru-baru ini, Intel mengumumkan penunjukan CEO baru sebagai pengganti Pat Gelsinger yang terpaksa mengundurkan diri pada akhir tahun 2024. Sosok yang terpilih adalah Lip-Bu Tan, seorang figur yang sudah sangat dikenal di industri chip. Tan dianggap memiliki kemampuan luar biasa untuk memulihkan kondisi Intel yang saat ini sedang mengalami kesulitan. Sejak pengumuman tersebut, saham Intel mengalami lonjakan signifikan, dengan catatan kenaikan lebih dari 10% hanya dalam waktu satu pekan setelah penunjukan Tan. Lebih menariknya, sepanjang tahun 2025, nilai saham Intel sudah meningkat hampir 20%.
Intel tampaknya siap untuk berinvestasi besar-besaran guna menarik Tan bergabung sebagai pemimpin baru. Berdasarkan laporan dari CNBC International, Tan diharapkan akan mendapatkan total kompensasi yang mencapai US$1 juta (sekitar Rp 16,4 miliar) dalam bentuk gaji, ditambah bonus tahunan yang juga bernilai US$2 juta (Rp 32,8 miliar).
Namun, itu belum semuanya. Tan juga akan menerima hibah ekuitas jangka panjang yang bernilai US$14,4 juta (Rp 236 miliar) dan hibah kinerja sebesar US$17 juta (Rp 278 miliar) dalam bentuk saham Intel. Menariknya, kedua hibah ini akan berlaku selama lima tahun, tetapi Tan tidak akan mendapatkan satu pun saham jika harga saham Intel turun selama tiga tahun ke depan. Di sisi lain, jika performa saham perusahaan melejit dibandingkan pasar, Tan berpotensi memperoleh lebih banyak saham.
Tak hanya itu, Tan juga mendapatkan opsi saham senilai US$9,6 juta (Rp 157 miliar) dan paket perekrutan senilai US$25 juta (Rp 410 miliar). Secara total, ia akan menerima hingga US$66 juta (sekitar Rp 1 triliun) yang terdiri dari saham, jaminan lainnya, gaji, dan biaya legal, sesuai dokumen yang disampaikan kepada Komisi Sekuritas dan Bursa AS (SEC).
Menariknya, jika terjadi perubahan kontrol di Intel, Tan akan memenuhi syarat untuk percepatan vesting, sesuai pengajuan yang dipublikasikan. Intel menyatakan bahwa angka kompensasi yang diberikan kepada Tan mencerminkan pengalaman dan reputasinya sebagai seorang pemimpin teknologi yang berkompeten dan sangat dinamis dalam pasar yang kompetitif. Pihak Intel juga menekankan bahwa sebagian besar kompensasi yang diberikan berbasis pada ekuitas dan terkait dengan penciptaan nilai jangka panjang bagi pemegang saham.
Di sisi lain, Tan juga setuju untuk membeli saham Intel senilai US$25 juta (sekitar Rp 410 miliar) dan akan memegang saham tersebut sebagai syarat untuk mendapatkan jaminan dan bonus yang dijanjikan.
Satu hal yang perlu dicatat adalah bahwa Intel sedang berada dalam situasi sulit. Kejayaannya sebagai penguasa chip dunia kini terancam oleh pesaing-pesaing yang lebih progresif, seperti Nvidia dan AMD, yang sudah lebih dulu melangkah ke dalam pengembangan chip kecerdasan buatan (AI). Pada bulan Desember 2024, manajemen Intel mengambil langkah drastis dengan memberhentikan Pat Gelsinger dari posisi CEO-nya, di mana selama masa kepemimpinannya, ia hanya mampu bertahan selama empat tahun dan dinilai gagal melakukan pemulihan terhadap performa perusahaan.
Profil Lip-Bu Tan sangat menarik. Dengan usia 65 tahun, Tan memiliki track record yang mengesankan dalam memimpin perusahaan di industri chip. Koneksi dan jaringan luas yang ia miliki di kalangan mantan dan calon klien Intel membuatnya menjadi sosok yang relevan untuk mengembalikan kejayaan perusahaan. Banyak klien tersebut pernah berbisnis dengan startup yang didukung oleh Tan, memberi peluang bagi Intel untuk mendapatkan akses ke berbagai inovasi terbaru.
Kedekatan Tan dengan para pemain utama dalam industri chip AI, seperti Lisa Su dari AMD dan Jensen Huang dari Nvidia, juga menjadi nilai tambah yang signifikan. Keberhasilannya dalam menjalin koneksi akan sangat penting dalam upaya mengejar pendapatan dan pertumbuhan perusahaan, yang juga diperhatikan oleh pihak pemerintah, termasuk Presiden AS Donald Trump.
Tan dikenal memiliki kemampuan untuk mengubah perusahaan-perusahaan kecil menjadi kekuatan besar. Dia lahir di Malaysia, dibesarkan di Singapura dan kini menjadi Warga Negara AS. Pendidikan Tan di bidang nuklir di Massachusetts Institute of Technology (MIT) diikuti dengan prinsip bisnis yang memfokuskan pada pengembangan startup. Tan mendirikan firma modal ventura Walden International pada tahun 1987, dan sejak itu telah berinvestasi ratusan juta dolar untuk mendukung berbagai startup yang terbukti berhasil.
Salah satu contoh sukses dari investasinya adalah Annapurna Labs, yang sekarang telah diakuisisi oleh Amazon seharga US$370 juta. Proyek tersebut diakui Amazon sebagai bagian inti dari pengembangan chip di perusahaan tersebut dan mengindikasikan bahwa penggunaan chip buatan Annapurna kini lebih mendominasi ketimbang yang diproduksi Intel. Tan juga terlibat dalam investasi terhadap Nuvia, yang berhasil diakuisisi Qualcomm dengan nilai US$1,4 miliar pada tahun 2021, menjadi salah satu kekuatan baru bagi Qualcomm untuk bersaing di pasar chip laptop dan PC.
Tan termasuk individu yang tetap berkomitmen untuk menjalin hubungan baik dengan startup-startup yang ia pendani, dan dapat menjadi pesaing ataupun target akuisisi di masa mendatang. Belum lama ini, Tan juga terlihat berinvestasi lagi pada startup Celestial AI, yang didukung AMD—rival utama Intel. Dalam peranannya, Tan dikenal dengan kemampuannya dalam mendeteksi tren besar yang dapat membentuk industri chip selama tiga dekade ke depan.
Peran Tan sebagai CEO di Cadence Design Systems antara tahun 2009 hingga 2021 adalah salah satu puncak karirnya. Di bawah kepemimpinannya, Cadence berhasil memfokuskan diri pada penyediaan software chip terdepan dan menjalin kemitraan strategis dengan pemain utama seperti TSMC. Saham Cadence melonjak 3.200% selama masa kepemimpiannya, dan menjadikan Apple sebagai salah satu klien terbesar saat perusahaan tersebut memutuskan untuk mengembangkan chip secara mandiri.