Kehancuran Bisnis Elon Musk: Boikot Tesla, Eksodus Pengguna X, dan Starlink Mulai Ditinggalkan!
Tanggal: 19 Mar 2025 20:38 wib.
Kerajaan bisnis yang dipimpin oleh Elon Musk kini mulai menunjukkan tanda-tanda kemunduran yang signifikan. Gerakan boikot terhadap merek-merek seperti Tesla semakin meluas, terutama terlihat melalui aksi demonstrasi di beberapa showroom Tesla yang berlangsung di berbagai lokasi di Amerika Serikat. Situasi ini memicu reaksi keras dari para pengguna dan penggemar produk Tesla, di mana banyak dari mereka yang mulai menempelkan stiker dengan pesan-pesan yang mengecam Musk selaku pemiliknya. Pada situasi yang cukup mengejutkan, bahkan mantan Presiden AS, Donald Trump, merespons dengan membeli mobil Tesla dan menyatakan bahwa aksi boikot tersebut merupakan tindakan ilegal.
Di sisi lain, arus perpindahan pengguna media sosial X juga memunculkan keributan di kalangan netizen. Banyak pengguna yang merasa kecewa dengan kebijakan politik Musk yang tampaknya berupaya mendukung Trump melalui penyebaran propaganda di platform tersebut. Konsekuensinya, mereka pun beralih ke jaringan alternatif seperti BlueSky, Mastodon, dan Threads, yang menawarkan ruang bagi mereka yang merasa tidak nyaman berada di bawah pengaruh Musk.
Belum lama ini, layanan internet berbasis satelit, Starlink, turut merasakan dampak dari ketidakpuasan ini. Starlink memiliki tujuan mulia untuk menyediakan sambungan internet ke masyarakat di wilayah terpencil yang sulit terjangkau oleh jaringan seluler atau broadband. Namun, meskipun saat ini Starlink masih menjadi pemimpin dalam industri layanan internet satelit, popularitasnya tampaknya mulai pudar.
Dikutip dari The Guardian pada Selasa (18/3/2025), banyak pelanggan Starlink yang menyatakan frustrasi terhadap kebijakan politik Musk. Bahkan, sejumlah pengguna bertekad untuk berhenti berlangganan layanan tersebut secara menyeluruh. Salah satu contoh terlihat pada Barry Nisbet, seorang pemain biola asal Skotlandia yang mengelola bisnis yang menggabungkan musik dan pelayaran. Ia mengungkapkan ketidaknyamanannya terhadap kehadiran Musk di panggung politik, khususnya saat Musk mendapatkan perhatian di acara pelantikan Trump. “Saya sudah lama merasa tidak nyaman dengan Musk dan perannya dalam pemilu AS. Selain itu, posisi monopoli yang dipegang Musk juga sangat mengganggu saya,” ungkap Nisbet.
Fenomena banyaknya pengguna yang menghentikan langganan Starlink di Eropa menciptakan momentum yang menguntungkan bagi penyedia layanan internet satelit lain, seperti Eutelsat yang berasal dari Prancis, yang tiba-tiba mengalami lonjakan nilai saham hingga 500% pasca ketegangan politik antara Trump dan Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy. CEO Eutelsat kemudian menyatakan kepada Bloomberg bahwa layanan mereka diharapkan dapat mengambil alih peran Starlink di Ukraina dalam waktu dekat.
Sementara itu, Viasat, sebuah perusahaan asal Inggris, juga dilaporkan telah melakukan pembicaraan dengan pemerintah Eropa untuk mencari kemungkinan menggantikan layanan Starlink. Di Inggris, Starlink menjadi pilihan utama bagi rumah tangga maupun bisnis yang beroperasi di kawasan terpencil dengan jaringan broadband yang buruk. Seorang penginstal Starlink di kawasan selatan Inggris menyatakan bahwa meski saat ini belum ada alternatif yang dapat menandingi Starlink dalam memberikan akses internet cepat, banyak di antara mereka merasa terjebak dengan keputusan untuk menggunakan layanan tersebut, mengingat kontroversi yang mengelilingi Musk.
Richard Opie, seorang konsultan yang tinggal di area semi-remot di Northumberland, pernah berlangganan Starlink sejak awal pandemi. Namun kini, ia mengungkapkan mempertimbangkan untuk mencari alternatif lain jika ada layanan yang dapat diandalkan. “Starlink merupakan berkah bagi orang-orang yang tinggal di area terpencil, tetapi situasi politik kini telah berubah. Elon Musk bukan sosok yang sama seperti sebelumnya. Melihat showroom Tesla diserbu oleh pengunjuk rasa membuat saya merasa tidak nyaman. Hubungan Musk dengan Trump dan sikapnya secara keseluruhan sangat meresahkan,” kata Opie.
Pengguna Starlink yang lain, Mel Sayer, juga menyatakan penolakannya terhadap produk-produk yang terkait dengan Trump. Ia bahkan menolak untuk menginap di hotel milik Trump, menegaskan keinginannya untuk tidak memberikan dukungan finansial kepada tokoh yang ia anggap tidak layak. “Saat ini, saya tidak ingin memberikan uang saya untuk Musk, terutama setelah sikapnya yang tidak beretika,” tutur Sayer.
Sementara itu, pertumbuhan pengguna Starlink di Inggris menunjukkan angka yang signifikan, melonjak dari 13.000 menjadi 87.000 orang dalam setahun. Namun, di tengah pertumbuhan tersebut, banyak pengguna yang mulai mempertimbangkan opsi lain karena ketidakpuasan terhadap langkah politik Musk serta kontroversi yang mengelilinginya. Hal ini menandakan bahwa meskipun Starlink masih memiliki pangsa pasar yang cukup besar, sentimen negatif terhadap pemilik dan tindakan politiknya dapat berdampak signifikan pada loyalitas pelanggan dalam jangka panjang.