Sumber foto: iStock

Kecerdasan Buatan: Berubahnya Lanskap Pekerjaan dan Peluang Baru yang Tercipta

Tanggal: 23 Feb 2025 17:49 wib.
Tampang.com | Kecerdasan buatan (AI) semakin menunjukkan kemajuan yang pesat, dan ini diperkirakan akan membawa perubahan signifikan dalam dunia kerja. Lee Xiadong, Founder dan CEO Fuxi Institution, dengan tegas menyatakan bahwa AI memiliki potensi besar untuk menggantikan berbagai pekerjaan dan teknologi yang ada saat ini.

Namun, di tengah kecemasan ini, ada harapan. Xiadong menjelaskan bahwa meskipun AI berpotensi menggantikan pekerja yang tidak beradaptasi, peluang untuk meningkatkan keterampilan dan memanfaatkan teknologi baru tetap terbuka lebar.

Dalam sebuah diskusi penting di Indonesia Economic Summit 2025, yang berlangsung di Jakarta pada 19 Februari, Xiadong menjelaskan bahwa salah satu tantangan yang dihadapi masyarakat adalah bagaimana membawa teknologi digital ke dalam kehidupan sehari-hari.

"Jika kita tidak membawa teknologi digital ke dunia karena keterbatasan dana, maka kita akan menggantikan teknologi digital dengan sesuatu yang lain. Banyak pekerjaan akan tergantikan, terutama dalam bidang kecerdasan buatan," ujarnya.

Lebih lanjut, Xiadong mengingatkan bahwa pekerjaan-pekerjaan yang tidak memiliki pemahaman tentang AI akan terancam, namun hal ini tidak serta-merta menghilangkan peran manusia. Justru sebaliknya, AI dapat menciptakan banyak peluang baru bagi individu yang berani belajar dan beradaptasi dengan teknologi.

Dia memberikan contoh berdasarkan sejarah, seperti saat mobil menggantikan kuda. Dalam transisi tersebut, muncul profesi baru sebagai pengemudi mobil yang menjadi kewajiban. "Di China, kita memiliki e-commerce yang telah menciptakan lebih dari 10 juta lapangan pekerjaan di bidang pengiriman," tambahnya.

Di tengah kekhawatiran akan kehilangan pekerjaan, penting untuk menyadari bahwa setiap kemajuan teknologi biasanya membawa serta inovasi yang membuka kesempatan baru. Dengan adanya AI, orang-orang yang mau memenuhi tuntutan untuk belajar dan beradaptasi dapat menemukan jalan baru dalam hidup mereka. "Oleh karena itu, masyarakat harus tidak takut dengan perubahan yang dibawa oleh AI," kata Xiadong.

Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemenkominfo) Indonesia juga memberikan pandangan serupa. Menurut Meutya Hafid, Menteri Komunikasi dan Digital, Indonesia saat ini menjadi salah satu negara dengan pengguna AI terbanyak di dunia, dengan sekitar 1,4 miliar pengguna beragam platform berbasis kecerdasan buatan. Survei yang dilakukan oleh Tirto dan Jakpat menunjukkan bahwa 87% pelajar di Indonesia memanfaatkan AI untuk mengerjakan tugas mereka.

"Ini yang perlu jadi catatan," jelas Meutya, menambahkan bahwa peran AI dalam kehidupan manusia tidak hanya sekadar membantu pekerjaan, tetapi juga menciptakan kehidupan yang lebih efektif dan efisien.

Kendati demikian, ia memperingatkan bahwa pada tahun 2025, diperkirakan AI dapat menggantikan sekitar 85 juta pekerjaan di dunia. Namun, di sisi lain, teknologi ini juga diprediksi akan menciptakan 90 juta pekerjaan baru, memberikan harapan bagi mereka yang menyambut era baru ini dengan semangat dan keterbukaan.

Banyaknya pengguna AI di Indonesia, terutama kalangan pelajar, menunjukkan bahwa masyarakat sudah mulai mengalihkan fokus mereka untuk memahami dan memanfaatkan teknologi modern ini dengan cara yang lebih produktif.

Ini menjadi indikator bahwa generasi muda tidak hanya siap menghadapi tantangan yang ada, tetapi juga berupaya untuk memanfaatkan AI sebagai alat bantu dalam mencapai kemajuan pribadi dan profesional. 

Sebagai negara dengan banyak potensi dalam bidang teknologi, Indonesia perlu mempersiapkan diri untuk menghadapi perubahan yang cepat. Masyarakat perlu diberdayakan dengan keterampilan baru yang relevan dengan perkembangan teknologi, termasuk dalam bidang AI.

Langkah-langkah strategis harus diambil untuk memastikan bahwa masyarakat memiliki akses terhadap pelatihan dan edukasi yang dapat membantu mereka beradaptasi dengan perubahan ini.

Proses peralihan dari ekonomi tradisional ke ekonomi digital tentu tidaklah mudah. Akan tetapi, dengan visibilitas yang lebih besar terhadap berbagai peluang yang ditawarkan oleh AI, masyarakat bisa melihat ini sebagai tantangan sekaligus kesempatan. Keterbukaan terhadap pelajaran baru dan semangat untuk inovasi akan menjadi kunci bagi individu agar tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang dalam era kecerdasan buatan.

Sebagai negara yang berada di urutan ketiga dalam penggunaan AI di dunia, Indonesia harus memastikan bahwa setiap individu, terutama pelajar, memperoleh pengetahuan dan keahlian yang diperlukan untuk memanfaatkan peluang kerjanya.

Masyarakat akan lebih siap menghadapi konsekuensi yang datang dengan kemajuan teknologi, sambil tetap menempatkan manusia pada posisi penting dalam ekosistem kerja yang baru.

Dengan demikian, semua pihak perlu bekerja sama untuk menciptakan ekosistem yang mendukung perkembangan dan adopsi AI di Indonesia. Ini akan menciptakan fondasi yang kuat untuk masa depan di mana manusia dan teknologi bisa saling mendukung dan berkolaborasi.

Akhir kata, seiring dengan pertumbuhan dan transformasi yang disebabkan oleh kecerdasan buatan, penting bagi setiap individu untuk tetap optimis dan terbuka terhadap berbagai peluang baru. Dengan pemahaman yang tepat tentang teknologi dan adaptasi yang cepat, masa depan akan menjadi lebih cerah bagi mereka yang ingin menggenggamnya.
Copyright © Tampang.com
All rights reserved