Google Gunakan AI untuk Verifikasi Usia: Perlindungan Digital yang Semakin Ketat?
Tanggal: 17 Feb 2025 22:48 wib.
Google berencana mengadopsi kecerdasan buatan (AI) guna memastikan batasan usia bagi pengguna internet. Langkah ini bertujuan untuk melindungi anak-anak dari konten yang tidak sesuai dengan usia mereka dan memastikan layanan Google hanya diakses oleh pengguna yang memenuhi syarat.
Melalui blog resminya yang berjudul "New Digital Protections for Kids, Teens, and Parents", Google mengumumkan bahwa teknologi AI ini akan diterapkan di berbagai produk mereka, termasuk YouTube. Inovasi ini menjadi bagian dari strategi global perusahaan dalam meningkatkan keamanan pengguna di dunia digital.
AI untuk Identifikasi Usia: Bagaimana Cara Kerjanya?
Menurut laporan CNBC International, beberapa layanan Google memang memiliki batasan usia minimum 18 tahun. Untuk memastikan aturan ini ditegakkan, Google mulai menguji model berbasis machine learning yang mampu memperkirakan usia pengguna.
Jenn Fitzpatrick, anggota tim teknologi inti Google, menyatakan bahwa teknologi ini akan diuji coba di Amerika Serikat pada tahun 2025. "Model ini membantu kami mengidentifikasi apakah pengguna masih di bawah 18 tahun, sehingga kami dapat memberikan pengalaman yang lebih sesuai dengan usia mereka," ungkap Fitzpatrick.
Teknologi ini memungkinkan Google untuk secara otomatis mendeteksi apakah seseorang berbohong tentang usianya saat mendaftar ke layanan tertentu. Dengan demikian, perusahaan dapat menerapkan langkah-langkah perlindungan yang lebih ketat bagi pengguna di bawah umur.
Tekanan Global untuk Keamanan Digital
Implementasi AI untuk verifikasi usia muncul sebagai respons terhadap meningkatnya tekanan terhadap perusahaan teknologi agar lebih bertanggung jawab dalam melindungi anak-anak di dunia digital.
Beberapa negara telah mengambil langkah tegas dalam mengatur batasan usia bagi pengguna internet. Australia, misalnya, telah menetapkan undang-undang yang melarang anak-anak di bawah usia 16 tahun mengakses media sosial, meskipun YouTube masih dikecualikan dari aturan tersebut.
Indonesia juga tengah bersiap menerapkan kebijakan serupa. Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, mengonfirmasi bahwa Presiden Prabowo Subianto ingin segera mengeluarkan regulasi yang membatasi akses anak-anak ke platform digital, termasuk media sosial.
Meta Juga Gunakan AI untuk Verifikasi Usia
Google bukan satu-satunya perusahaan yang menerapkan teknologi AI untuk verifikasi usia. Meta, induk perusahaan Facebook, Instagram, dan WhatsApp, telah lebih dulu menggunakan teknologi serupa sejak September 2024 di Amerika Serikat.
Meta mengembangkan sistem AI yang dapat mengidentifikasi usia pengguna dengan lebih akurat, guna mencegah anak-anak mengakses platform mereka tanpa izin yang sesuai. Langkah ini sejalan dengan tren global yang mengedepankan keamanan digital dan perlindungan bagi anak di bawah umur.
Dampak Implementasi AI di Indonesia
Jika kebijakan Google ini diterapkan secara global, maka pengguna di Indonesia juga akan merasakan dampaknya. Anak-anak yang sebelumnya bisa dengan mudah mengakses YouTube atau layanan Google lainnya mungkin akan menghadapi lebih banyak kendala saat mencoba masuk tanpa verifikasi usia yang benar.
Namun, pertanyaan yang muncul adalah sejauh mana teknologi ini bisa efektif dalam membedakan usia pengguna secara akurat? Apakah AI dapat benar-benar mengidentifikasi seseorang yang mencoba mengelabui sistem?
Sebagai salah satu negara dengan populasi digital yang terus bertumbuh, Indonesia perlu bersiap menghadapi era baru di mana AI semakin mengambil peran dalam regulasi penggunaan internet.
Penerapan AI dalam verifikasi usia oleh Google merupakan langkah besar dalam meningkatkan perlindungan digital bagi anak-anak. Meskipun masih dalam tahap uji coba, teknologi ini berpotensi menjadi standar baru dalam memastikan keamanan dunia maya bagi generasi muda.
Namun, efektivitas teknologi ini masih perlu diuji lebih lanjut. Seiring berkembangnya kecerdasan buatan, tantangan baru pun akan muncul, terutama dalam memastikan bahwa sistem ini tidak hanya akurat, tetapi juga adil bagi seluruh pengguna.
Bagaimana menurutmu? Apakah langkah ini akan benar-benar efektif atau justru memunculkan masalah baru di era digital?