Dampak Sanksi AS terhadap Industri Chip China: Penurunan Belanja dan Tantangan Baru
Tanggal: 14 Feb 2025 21:56 wib.
Sanksi Amerika Serikat (AS) yang menargetkan ekspor chip dan peralatan manufaktur semikonduktor ke China mulai memberikan dampak signifikan. Menurut analisis dari TechInsights, belanja China untuk peralatan chip diperkirakan mengalami penurunan tahun ini setelah sebelumnya tumbuh selama tiga tahun berturut-turut.
Penurunan ini disebabkan oleh dua faktor utama: kelebihan kapasitas dalam industri semikonduktor China dan sanksi AS yang semakin ketat. Meskipun selama dua tahun terakhir China menjadi pembeli terbesar peralatan fabrikasi wafer—dengan total belanja mencapai US$41 miliar atau sekitar Rp670 triliun, menyumbang 40% dari penjualan global pada 2024—tahun ini tren tersebut mulai berubah.
Penurunan Investasi dan Pangsa Pasar Global
TechInsights memperkirakan bahwa belanja China untuk peralatan chip akan turun 6% menjadi US$38 miliar pada tahun ini. Pangsa pasar global China dalam pembelian peralatan fabrikasi wafer juga diprediksi merosot menjadi 20%, penurunan pertama sejak 2021.
“Kita mulai melihat perlambatan dalam belanja China akibat kontrol ekspor serta kelebihan kapasitas produksi,” ujar Boris Metodiev, analis senior manufaktur semikonduktor di TechInsights, seperti dikutip dari Reuters pada Kamis (13/2/2025).
Pada 2023 dan 2024, China menjadi pendorong utama pertumbuhan global di sektor peralatan fabrikasi wafer. Saat itu, pasar mengalami kontraksi akibat melemahnya permintaan elektronik konsumen. Namun, tren ini berubah seiring dengan efek jangka panjang dari sanksi AS.
Strategi China: Stok dan Diversifikasi Produksi
Salah satu alasan utama lonjakan pembelian peralatan chip oleh China dalam beberapa tahun terakhir adalah strategi penimbunan. Langkah ini diambil sebagai respons terhadap serangkaian sanksi AS yang bertujuan membatasi akses Beijing terhadap teknologi semikonduktor canggih.
Washington khawatir bahwa kemajuan China dalam teknologi chip dapat dimanfaatkan untuk aplikasi kecerdasan buatan (AI) di sektor militer atau bahkan mengancam keamanan nasional AS. Oleh karena itu, AS terus memperketat regulasi dan memperluas daftar perusahaan China yang diblokir dari mengakses teknologi semikonduktor canggih.
Namun, meskipun menghadapi tekanan besar dari AS, beberapa perusahaan semikonduktor China masih mampu membuat terobosan. Salah satu contoh yang paling menonjol adalah Huawei. Pada tahun lalu, Huawei berhasil memproduksi chip canggih dengan biaya lebih tinggi dibandingkan pesaing globalnya.
Selain itu, perusahaan-perusahaan China juga mulai memperkuat kapasitas produksi chip mature-node—chip dengan teknologi yang lebih lama tetapi masih sangat diperlukan di berbagai industri. Langkah ini tidak hanya membantu China mengurangi ketergantungan pada teknologi asing tetapi juga memperluas pangsa pasarnya di segmen yang sebelumnya didominasi oleh produsen Taiwan.
Dampak Global dan Masa Depan Industri Chip
Merosotnya belanja China untuk peralatan fabrikasi chip diprediksi akan berdampak pada industri semikonduktor global. Sebagai salah satu pasar terbesar, perlambatan ini dapat mempengaruhi pertumbuhan berbagai perusahaan pemasok peralatan chip dari Jepang, Korea Selatan, hingga Eropa.
Namun, di sisi lain, langkah-langkah China dalam memperkuat industri semikonduktor domestiknya juga berpotensi mengubah peta persaingan global. Jika China berhasil mengembangkan teknologi chipnya secara mandiri, tekanan terhadap perusahaan-perusahaan AS dan sekutunya mungkin akan meningkat dalam jangka panjang.
Dengan kondisi saat ini, industri semikonduktor global tengah berada dalam masa transisi besar. Perubahan dalam dinamika geopolitik, strategi investasi, serta kebijakan ekspor akan sangat menentukan bagaimana arah industri ini berkembang di masa depan.