Sumber foto: iStock

China Terpukul! Sanksi AS Mulai Hantam Industri Chip, Apa Dampaknya?

Tanggal: 17 Feb 2025 22:47 wib.
Sanksi Amerika Serikat (AS) terhadap ekspor chip dan alat pembuat chip ke China kini mulai menunjukkan dampaknya. Menurut laporan terbaru dari TechInsights, belanja China untuk peralatan semikonduktor mengalami penurunan signifikan setelah tiga tahun berturut-turut mengalami pertumbuhan.

Penurunan ini terjadi di tengah dua tantangan utama yang dihadapi China, yaitu kelebihan kapasitas produksi dan kebijakan pembatasan AS yang semakin ketat. Dengan kondisi ini, bagaimana nasib industri chip China ke depan?

China Mulai Kurangi Pembelian Peralatan Chip

Selama dua tahun terakhir, China telah menjadi pembeli terbesar peralatan fabrikasi wafer di dunia. Pada tahun 2024 saja, total belanja China di sektor ini mencapai US$41 miliar (sekitar Rp670 triliun), yang menyumbang 40% dari total penjualan global.

Namun, tahun ini tren tersebut diprediksi berubah drastis. Pengeluaran China untuk peralatan semikonduktor diperkirakan turun 6% menjadi US$38 miliar, dengan pangsa globalnya merosot hingga 20%, menandai penurunan signifikan pertama sejak 2021.

Menurut Boris Metodiev, analis senior TechInsights, ada dua faktor utama yang menyebabkan perlambatan ini:


Kebijakan ekspor AS yang semakin ketat
Kelebihan kapasitas produksi di China sendiri


Dampak dari kedua faktor ini tidak hanya memengaruhi industri chip di China, tetapi juga berpotensi mengubah lanskap industri semikonduktor global.

Sanksi AS: Senjata Utama untuk Membendung Dominasi China

Sanksi AS terhadap industri chip China bukanlah hal baru. Washington telah berulang kali memperketat regulasi untuk membatasi akses China terhadap teknologi semikonduktor canggih.

Langkah ini dilakukan dengan alasan keamanan nasional, karena AS khawatir teknologi chip canggih dapat digunakan China dalam pengembangan kecerdasan buatan (AI) untuk kepentingan militer.

Sebagai respons, banyak perusahaan China melakukan penimbunan besar-besaran sebelum sanksi semakin diperketat. Hal ini sempat meningkatkan permintaan chip secara artifisial, tetapi kini dampaknya mulai terlihat dengan turunnya belanja peralatan fabrikasi.

Apakah Industri Chip China Akan Lumpuh?

Meskipun menghadapi sanksi ketat, China tidak tinggal diam. Beberapa perusahaan teknologi besar di Negeri Tirai Bambu terus berupaya beradaptasi dan mencari cara agar tetap bisa bersaing di industri semikonduktor global.

Contohnya adalah Huawei, yang tahun lalu berhasil memproduksi chip canggih meskipun dengan biaya yang lebih tinggi. Selain itu, Huawei juga mulai mengembangkan produksi chip mature-node, yaitu teknologi chip yang lebih sederhana tetapi tetap dibutuhkan dalam berbagai industri.

Langkah ini memungkinkan mereka untuk mengambil pangsa pasar dari pesaing utama, seperti perusahaan semikonduktor di Taiwan.

Dampak Global: Siapa yang Paling Terpengaruh?

Penurunan belanja China terhadap peralatan chip tidak hanya berdampak pada industri domestik, tetapi juga berimbas pada produsen peralatan semikonduktor di negara lain.

Beberapa perusahaan yang kemungkinan besar akan terdampak antara lain:
ASML (Belanda) – Produsen mesin litografi canggih
Applied Materials (AS) – Penyedia peralatan manufaktur semikonduktor
Tokyo Electron (Jepang) – Salah satu pemasok utama alat produksi chip

Jika penurunan belanja ini terus berlanjut, industri semikonduktor global bisa mengalami perlambatan lebih besar.

Sanksi AS jelas telah memberikan tekanan besar terhadap industri chip China. Namun, melihat upaya inovasi dan adaptasi perusahaan-perusahaan China, tampaknya industri ini tidak akan sepenuhnya lumpuh.

Sebaliknya, China mungkin akan mengalihkan fokusnya ke pengembangan teknologi alternatif dan mempercepat investasi dalam riset semikonduktor domestik.

Pertanyaannya sekarang: apakah AS akan terus memperketat sanksinya, atau justru membuka celah negosiasi dengan China di masa depan?
Copyright © Tampang.com
All rights reserved