AstroForge: Perusahaan AS Pertama yang Berambisi 'Menambang' Mineral Langka di Asteroid
Tanggal: 25 Mar 2025 14:55 wib.
Siapa yang menyangka bahwa benda luar angkasa, seperti asteroid, menyimpan potensi mineral yang sangat berharga? Salah satu perusahaan ambisius yang berfokus pada eksplorasi ini adalah AstroForge, sebuah perusahaan inovatif yang bermarkas di California, Amerika Serikat. AstroForge bertekad untuk menjadi pelopor dalam penambangan asteroid dengan rencana berani untuk mengekstraksi mineral langka yang mungkin bisa menjadi kekayaan luar biasa bagi umat manusia.
Pada 27 Februari 2025, AstroForge meluncurkan wahana antariksa nirawak pertama mereka, yang dinamai Odin, dengan biaya mencapai US$ 6,5 juta. Peluncuran ini dilakukan menggunakan roket Falcon 9 yang disediakan oleh SpaceX dari Kennedy Space Center, Florida.
Sekitar sembilan hari setelah peluncuran, perusahaan optimis bahwa Odin telah berhasil melewati bulan dan memasuki ruang angkasa. Namun, di tengah harapan ini, AstroForge menghadapi tantangan besar—masalah komunikasi dengan wahana antariksa tersebut.
Meskipun tidak memperoleh kontak yang stabil dengan Odin, tim di AstroForge tetap yakin bahwa wahana antariksa itu sedang dalam perjalanan sembilan bulan menuju asteroid 2022 OB5 yang telah dipilih secara teliti. Asteroid ini terletak sekitar 8 juta kilometer dari Bumi dan diharapkan dapat dianalisis komposisinya oleh Odin menggunakan sensor canggih yang terpasang pada wahana tersebut.
Sekretaris perusahaan menyatakan bahwa pengembangan ini merupakan perjalanan panjang yang penuh dengan tantangan, dan mereka sudah belajar banyak dari pengalaman ini meskipun mengalami kesulitan dalam berkomunikasi dengan wahana. "Masih banyak langkah kecil yang harus kami lalui. Namun, kami percaya pada potensi ini dan pentingnya mencoba sesuatu yang baru," tambahnya.
Inovasi dalam penambangan asteroid bukanlah hal yang sepele. Data terbaru yang diungkap oleh teleskop James Webb menunjukkan ada sabuk asteroid di luar sistem tata surya kita, memperlihatkan 3 sabuk asteroid yang mencengangkan di sekitar bintang Fomalhaut. Sabuk-sabuk ini meluas hingga 23 miliar kilometer dari bintang tersebut, menjadikannya tempat yang menarik untuk dieksplorasi lebih lanjut. Temuan ini menunjukkan bahwa ada banyak objek luar angkasa yang mungkin menyimpan sumber daya bernilai tinggi.
AstroForge merencanakan peluncuran lebih lanjut di tahun-tahun mendatang, dengan visi untuk menciptakan metode yang efisien dalam menambang logam berharga dan terkonsentrasi yang terdapat di asteroid, khususnya logam golongan platinum. Logam ini dianggap sangat penting untuk berbagai aplikasi teknologi, seperti sel bahan bakar dan solusi energi terbarukan.
Para ilmuwan juga mengemukakan pandangan bahwa penambangan di Bumi, baik dari segi biaya maupun dampaknya pada lingkungan, semakin sulit dan menantang. Ini membuat penambangan sumber daya dari luar angkasa tampak semakin menarik dan lebih layak secara ekonomis.
Namun, penambangan asteroid juga menghadapi berbagai tantangan teknis yang harus diatasi. Ian Lange, seorang profesor madya di Colorado School of Mines, menekankan bahwa saat ini kita masih berada pada tahap perkiraan terkait rintangan teknologi yang harus dihadapi untuk menambang asteroid.
Ia menyoroti bahwa di masa lalu, hanya pemerintah yang memiliki akses terhadap teknologi semacam ini, dan mereka jarang menggunakannya secara efektif. Joel Sercel, pendiri TransAstra, sebuah perusahaan yang juga terlibat dalam pengembangan teknologi untuk penambangan asteroid, mengikuti pandangan ini dengan mengatakan bahwa saat ini banyak kebangkitan di sektor tersebut.
Namun, aspek paling menarik dari perkembangan penambangan asteroid adalah transformasi dalam industri luar angkasa. Kini, dengan privatisasi luar angkasa dan pengembangan roket yang dapat digunakan kembali, seperti yang diperkenalkan oleh SpaceX, membawa muatan ke orbit menjadi jauh lebih terjangkau dan efisien. Hal ini membuka kemungkinan baru bagi perusahaan-perusahaan seperti AstroForge untuk mengeksplorasi dan menambang benda-benda langit yang sebelumnya dianggap tak terjangkau.