Sumber foto: The South African

Elon Musk Dikecam Putrinya Sendiri: ‘Dia Orang yang Menyedihkan

Tanggal: 23 Mar 2025 15:53 wib.
Tampang.com | Kehidupan Elon Musk, salah satu tokoh paling kontroversial di dunia bisnis, memang tidak pernah sepi dari sorotan dan kritik. Sejak terlibat dalam pemerintahan Donald Trump sebagai kepala Lembaga Efisiensi Pemerintah (DOGE), berbagai isu menghampiri dirinya. Musk dikenal sebagai sosok yang ambisius, selalu berusaha untuk menciptakan inovasi dan mendobrak batasan. Namun, dalam prosesnya, ia sering kali membuat keputusan yang mengundang pro dan kontra.

Beberapa kebijakan yang diambilnya, seperti pengurangan anggaran pemerintah, telah menyebabkan pemutusan hubungan kerja yang melibatkan ribuan pegawai negeri. Selain itu, keputusan untuk mengangkat orang-orang tanpa pengalaman ke posisi penting dalam lembaga pemerintah menambah daftar panjang kontroversi yang menyelimutinya.

Ditambah lagi, upaya untuk mendapatkan kontrak pemerintah untuk perusahaan-perusahaannya semakin memperburuk citranya. Akibatnya, banyak yang melancarkan gerakan boikot terhadap Tesla, salah satu perusahaan mobil listrik terkemuka yang dipimpinnya.

Situasi menjadi lebih pelik ketika showroom Tesla mulai diserbu oleh para demonstran di berbagai negara bagian, menunjukkan betapa besarnya rasa ketidakpuasan masyarakat. Namun, di tengah isu-isu tersebut, ada suara dari dalam keluarganya sendiri yang mengungkapkan pandangan mengejutkan tentang sosok Elon Musk.

Vivian Jenna Wilson, anak transgender Elon Musk, baru-baru ini menarik perhatian banyak orang dengan pernyataannya mengenai hubungan mereka. Mahasiswi berusia 20 tahun ini mengklaim bahwa dia tidak memiliki tempat untuk sang ayah dalam hidupnya. Dalam wawancara dengan Teen Vogue yang dikutip dari Futurism, Vivian mengungkapkan, "Saya tidak memberikan ruang dalam pikiran saya kepada siapa pun." Ia kemudian menambahkan bahwa satu-satunya sosok yang mendapat tempat di pikirannya adalah drag queen, menunjukkan betapa jauhnya pandangannya dibandingkan dengan pandangan ayahnya.

Vivian juga berbagi mengenai dukungan dari ibunya, yang sudah mengetahui identitas gendernya sebelum dia mengungkapkannya. "Ketika saya memberi tahu ibu, dia seperti, 'ya, itu dia [sudah terduga],'” ungkapnya, menceritakan bagaimana ibunya lebih menerima keputusannya dibandingkan dengan ayah sang miliarder. 

Sebaliknya, bagi Elon Musk, penerimaan terhadap transisi putrinya tampak lebih sulit. Meskipun ia pada akhirnya memberikan izin untuk perawatan medis yang diinginkan Vivian sebelum mencapai usia 18 tahun, sikap Musk terhadap identitas gender putrinya tetap dipenuhi dengan penolakan. Vivian menegaskan bahwa ayahnya tidak mendukungnya dengan cara yang sama seperti ibunya. "Dia tidak mendukung seperti ibu saya. Pertama-tama, saya tidak berbicara dengannya selama berbulan-bulan," ungkap Vivian. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun ada momen-momen tertentu di mana Musk menunjukkan dukungan, intinya tetap ada perpecahan yang dalam antara mereka.

Vivian menyampaikan bahwa transisinya bukanlah alasan untuk menuding ayahnya sebagai seorang yang fasis. Ia menyoroti momen ketika Musk melontarkan “salam hormat Nazi” saat pelantikan Trump sebagai sesuatu yang "gila." Sikap dan tindakan Musk yang sering dipertanyakan oleh putrinya menunjukkan bahwa tindakannya membuat banyak orang, termasuk orang-orang terdekatnya, merasa jarak yang kian jauh.

Ketidakpuasan Vivian terhadap cara hidup yang diwakili ayahnya semakin nyata ketika ia berkomentar: “Mengapa saya harus merasa takut padanya? Saya tidak peduli. Mengapa saya harus takut pada orang ini? Karena dia kaya? Oh, tidak." Pernyataan ini menunjukkan betapa jauh pemikiran Vivian yang merindukan kebebasan dan penerimaan, terkendala oleh asosiasi dengan nama besar ayahnya.

Melalui pandangan putrinya, kita kembali diingatkan akan kompleksitas hubungan antara orang tua dan anak, terutama ketika identitas dan pandangan hidup mereka berbeda jauh. Ini bukan sekadar masalah bisnis atau politik, melainkan soal kemanusiaan yang menyentuh aspek personal dalam hidup mereka. Keluarga Musk, meski dikenal kaya raya, tampaknya harus berjuang dengan masalah yang lebih mendasar: penerimaan dan pengertian satu sama lain.

Dalam konteks lebih luas, kisah keluarga Musk dapat menggambarkan bagaimana dinamika antara generasi sering kali penuh tantangan, terutama ketika ditambah dengan tekanan dari dunia luar. Masyarakat yang terus berubah semakin menuntut keterbukaan dan penerimaan, yang tidak selalu mudah diraih dalam lingkungan yang telah dibentuk oleh kekuatan dan citra publik yang kuat.
Copyright © Tampang.com
All rights reserved