Sumber foto: Google

Deddy Mizwar Sudah 20 Tahun “Mencuci Otak” Pemirsa Setiap Ramadan, Ini Rahasia di Balik Dominasi Karyanya!

Tanggal: 13 Jan 2026 12:50 wib.
Jakarta — Di tengah ramainya konten hiburan dan tayangan religi di televisi Indonesia, satu nama masih tetap menjadi magnet kuat setiap bulan Ramadan: Deddy Mizwar. Tidak hanya sekadar populer, pria yang juga dikenal sebagai aktor sekaligus produser ini berhasil mempertahankan dominasi tayangan berisi pesan moral selama dua dekade penuh, lewat program “Mengetuk Pintu Hati” yang usianya kini mencapai 20 tahun.

Fenomena ini bukan hal sepele. Dalam industri yang selalu berganti tren dan wajah baru, sangat sedikit karya televisi yang mampu bertahan lebih dari satu atau dua tahun apalagi hingga dua puluh tahun berturut-turut di layar kaca. Keberhasilan panjang ini menandakan bahwa strategi konten yang dibangun Mizwar bukan sekadar hiburan semata, tetapi telah menjadi bagian dari tradisi Ramadan di Indonesia.

“Mengetuk Pintu Hati”: Bukan Sekadar Tayangan Ramadan Biasa

Sejak awal, program Mengetuk Pintu Hati dirancang bukan hanya untuk menemani jam sahur atau buka puasa, tetapi juga menyampaikan pesan-pesan yang menyentuh nilai moral dan kehidupan sehari-hari. Dengan format yang simpel namun penuh makna, program ini menyajikan kisah-kisah inspiratif yang berakar dari persoalan sosial nyata. Tak heran jika pemirsa berbagai usia merasa terhubung dan “dipanggil” secara emosional setiap kali tayangan ini hadir di layar.

Deddy Mizwar sendiri menyatakan bahwa pencapaian 20 tahun ini adalah bukti bahwa pesan yang disampaikan masih relevan dengan kondisi masyarakat Indonesia saat ini. Menurutnya, program tersebut bukan sekadar tontonan, tetapi medium untuk menyampaikan nilai-nilai yang bisa menjadi renungan bagi pemirsa setia selama bulan suci Ramadan.

Ekspansi Konten: Lebih dari Sekadar Mengetuk Hati

Kesuksesan Mengetuk Pintu Hati ternyata membuka jalan bagi proyek-proyek lain yang juga ditunggu setiap Ramadan. Pada tahun ini, Deddy Mizwar dan rumah produksinya, Citra Sinema, juga menyiapkan dua tayangan besar lainnya: “Para Pencari Tuhan Jilid 19: Tobat Woy” dan “Lorong Waktu Jilid 2”.

Para Pencari Tuhan sebuah serial yang sudah menjadi legenda tayangan Ramadan di Indonesia kembali hadir dengan cerita yang menyoroti isu-isu sosial yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Dalam versi jilid 19 ini, serial tersebut mengangkat tema tentang anak jalanan dan eksploitasi yang mereka alami, menghadirkan drama yang tidak hanya menghibur tetapi juga menyentil realitas yang sering kali diabaikan.

Sementara itu, Lorong Waktu Jilid 2 memberikan pilihan tontonan yang lebih ringan namun tetap sarat pesan. Serial ini membawa nuansa berbeda dengan kisah yang penuh petualangan dan humor, yang tetap mengajarkan nilai-nilai penting dalam kehidupan.

Strategi Konten yang “Mengikat” Pemirsa Setia

Salah satu faktor utama kesuksesan Deddy Mizwar adalah kemampuan menghadirkan konten yang relevan secara sosial dan emosional. Alih-alih hanya menawarkan hiburan dangkal, tayangannya selalu menempel pada isu nyata yang mengundang empati dan refleksi. Hal ini membuat pemirsa merasa bukan sekadar sedang menonton tetapi diajak untuk berpikir, merasakan, dan bahkan berubah.

Misalnya dalam cerita PPT Jilid 19, yang mengangkat persoalan kehidupan jalanan serta fenomena organisasi masyarakat (ormas) dengan pesan bahwa kebebasan berserikat harus diimbangi dengan tanggung jawab sosial. Tema semacam ini bukan hal yang biasa dijadikan bahan utama tontonan Ramadan, tetapi justru itulah yang membuatnya “menyentuh hati” pemirsa.

Respon Pemirsa: Lebih dari Sekadar Hiburan Ramadan

Tayangan-tayangan Mizwar ini ternyata tidak hanya dinikmati oleh pemirsa setia SCTV, tetapi juga menjadi topik diskusi luas di masyarakat. Banyak yang merasa bahwa program tersebut telah menjadi bagian tak terpisahkan dari tradisi Ramadan mereka, bahkan menjadi bahan perbincangan keluarga saat sahur atau buka puasa bersama.

Bukan hanya itu, Deddy Mizwar menyatakan bahwa harapannya adalah agar karya-karyanya tidak sekadar menghibur, tetapi juga menginspirasi umat Muslim untuk menjalankan ibadah puasa dengan lebih bermakna penuh refleksi dan kegembiraan batin, bukan sekadar ritual.

Kritik dan Tantangan di Era Digital

Meski berhasil mempertahankan relevansi selama dua dekade, perjalanan tersebut tentu tidak selalu mulus. Era digital kini menghadirkan tantangan besar dengan munculnya platform streaming dan konten online yang sangat beragam. Tayangan televisi harus bersaing dengan video pendek, vlog, dan serial digital yang tak kenal waktu tayang. Namun, Mizwar seakan mampu menjaga akar tradisi televisi Ramadan tetap hidup meski persaingan sangat ketat.

Tradisi yang Terus Hidup

Prestasi Deddy Mizwar dengan karya-karya Ramadan yang konsisten selama 20 tahun bukan hanya soal angka atau umur tayang. Ini adalah bukti bahwa ketika sebuah karya digarap dengan tujuan lebih dari sekadar hiburan yaitu untuk menyentuh nilai-nilai kemanusiaan dan spiritual maka ia mampu bertahan melampaui tren dan perubahan zaman.

Dengan kombinasi konten yang kuat, tema sosial yang relevan, serta kemampuan untuk tetap beradaptasi tanpa kehilangan esensi, Mizwar telah menciptakan sebuah tradisi baru di dunia pertelevisian Indonesia yang bukan sekedar “ditonton,” tetapi juga dirasakan dan dihormati oleh jutaan pemirsa setiap Ramadan.
Copyright © Tampang.com
All rights reserved