Prabowo Sindir Balik Ketika Dikritik Bentuk Kabinet Gemoy
Tanggal: 16 Feb 2025 17:12 wib.
Tampang.com | Presiden Prabowo Subianto menanggapi dengan santai kritik yang menyebut Kabinet Merah Putih terlalu gemuk. Kritikan ini muncul setelah diketahui bahwa jumlah menteri di periode pertama kepemimpinannya mencapai 48 orang, belum termasuk 56 wakil menteri serta lima kepala badan.
Dalam pidatonya di puncak perayaan HUT ke-17 Partai Gerindra, yang digelar di Sentul City International Convention Centre (SICC) pada Sabtu (15/2/2025), Prabowo menanggapi kritik tersebut dengan sindiran tajam. Ia membandingkan kabinetnya dengan kabinet negara tetangga, Timor Leste.
Mantan Menteri Pertahanan itu menyampaikan bahwa kritikan terhadap kabinetnya tidak berdasar jika dibandingkan dengan jumlah kementerian di negara lain.
"Saudara-saudara sekalian, Timor Leste jumlah penduduknya itu 2 juta orang, kalah dengan (jumlah penduduk) di Kabupaten Bogor. Tapi, isi kabinet (Timor Leste) 28 orang. Jumlah penduduknya lebih kecil dari Kabupaten Bogor, kabinetnya ada 28 orang," ujar Prabowo dalam pidatonya.
Prabowo menilai bahwa struktur pemerintahan harus disesuaikan dengan kebutuhan negara dan tantangan yang dihadapi. Dengan jumlah penduduk Indonesia yang mencapai lebih dari 270 juta jiwa, menurutnya, wajar jika kabinet yang dibentuk lebih besar dibanding negara-negara lain.
Lebih lanjut, Prabowo menegaskan bahwa ia tidak terlalu memikirkan kritikan yang menyebut kabinetnya terlalu besar atau ‘gemoy’. Baginya, yang lebih penting adalah hasil kerja kabinet dan manfaat yang bisa dirasakan langsung oleh rakyat.
"Gak peduli saya disebut apa, yang penting hasilnya," tegasnya dengan nada berapi-api.
Prabowo ingin menunjukkan bahwa kebijakan yang ia ambil bukan sekadar jumlah anggota kabinet, tetapi bagaimana kabinet tersebut bekerja dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
Sejumlah pengamat politik menilai bahwa pembentukan kabinet yang besar bisa menjadi strategi politik Prabowo untuk menjaga stabilitas pemerintahan. Dengan banyaknya partai politik yang mendapatkan posisi di kabinet, diharapkan dukungan terhadap pemerintah tetap kuat di parlemen.
Namun, di sisi lain, kabinet yang besar juga menimbulkan pertanyaan mengenai efisiensi dan efektivitas kerja pemerintahan. Banyak pihak yang khawatir bahwa dengan jumlah pejabat yang terlalu banyak, koordinasi kebijakan bisa menjadi lebih rumit dan berpotensi memperlambat pengambilan keputusan.
Sementara itu, Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Habiburokhman, menegaskan bahwa jumlah kementerian dan wakil menteri yang banyak merupakan bagian dari strategi untuk memastikan seluruh program prioritas pemerintahan berjalan dengan baik.
"Kami pastikan kabinet yang dibentuk ini akan bekerja secara maksimal untuk kepentingan rakyat. Jangan hanya dilihat dari jumlahnya, tapi lihat dari bagaimana mereka bekerja dan membawa perubahan bagi negara," ujarnya.
Dengan sindiran balik yang dilontarkan Prabowo, ia menunjukkan bahwa dirinya tidak terpengaruh oleh kritik soal kabinet yang dianggap terlalu besar. Menurutnya, efektivitas dan hasil kerja lebih penting dibanding sekadar jumlah anggota kabinet.
Ke depan, masyarakat tentu akan menunggu apakah kabinet "gemoy" ini benar-benar mampu menjawab tantangan dan membawa perubahan nyata bagi Indonesia, atau justru menjadi beban bagi pemerintahan. Waktu yang akan membuktikan!