Sumber foto: iStock

Fakta Mengejutkan! Asal-usul Valentine Ternyata Berawal dari Eksekusi Mati?

Tanggal: 17 Feb 2025 22:47 wib.
Setiap tanggal 14 Februari, banyak orang di berbagai belahan dunia merayakan Hari Valentine sebagai momen untuk mengungkapkan kasih sayang kepada orang terkasih. Namun, tahukah kamu bahwa perayaan yang kini identik dengan cinta ini sebenarnya berawal dari sebuah tragedi? Sejarah mencatat bahwa Hari Valentine bukan sekadar perayaan romantis, melainkan memiliki latar belakang yang cukup kelam.

Awal Mula Valentine: Kisah Seorang Uskup yang Menentang Kekaisaran

Melansir Britannica, sejarah Hari Valentine berakar dari kejadian di abad ke-3 Masehi, ketika Kekaisaran Romawi dipimpin oleh Claudius II. Pada masa pemerintahannya, Claudius II berambisi memperluas wilayah kekuasaannya melalui ekspansi militer yang besar-besaran.

Demi meningkatkan kekuatan pasukannya, sang kaisar mengeluarkan kebijakan yang melarang para prajurit muda untuk menikah. Menurutnya, ikatan pernikahan hanya akan mengurangi fokus dan semangat bertempur para tentaranya.

Namun, kebijakan tersebut mendapat tentangan dari seorang uskup bernama Santo Valentinus. Baginya, keputusan itu tidak adil karena menghalangi hak para prajurit untuk mencintai dan membangun keluarga. Valentinus pun diam-diam menikahkan para tentara secara rahasia tanpa sepengetahuan pihak kekaisaran.

Sayangnya, tindakan ini akhirnya terungkap. Akibat pembangkangannya terhadap perintah kerajaan, Valentinus ditangkap dan dijatuhi hukuman mati. Selama berada di dalam penjara menunggu eksekusi, ia tetap menunjukkan kasih sayang kepada orang-orang di sekitarnya. Valentinus juga dikenal sering menulis surat kepada para pemuda Roma, termasuk seorang wanita yang dikabarkan sebagai kekasihnya. Surat-surat ini ia tutup dengan tanda tangan "From Your Valentine" sebagai bentuk salam perpisahan.

Eksekusi yang Mengubah Sejarah

Pada tanggal 14 Februari, Valentinus akhirnya dieksekusi mati. Sejak saat itu, namanya mulai terlupakan dalam sejarah Romawi. Namun, cerita mengenai keberaniannya kembali mencuat di abad ke-15, tepatnya pada tahun 1415. Kala itu, seorang bangsawan Prancis bernama Charles d'Orléans, yang sedang dipenjara di London, menuliskan puisi penuh kasih sayang untuk istrinya. Tradisi ini pun berkembang dan menjadi inspirasi bagi Raja Henry V dari Inggris (1386-1422) yang kemudian ikut mengirimkan surat cinta.

Sejak saat itu, kebiasaan mengekspresikan kasih sayang melalui tulisan menjadi tradisi yang meluas ke berbagai penjuru dunia. Nama Valentinus yang dahulu dikenal karena keteguhannya melawan ketidakadilan, kini justru menjadi simbol cinta dan kasih sayang.

Transformasi Valentine dari Surat Menjadi Hadiah

Seiring waktu, perayaan Hari Valentine mengalami perubahan. Jika pada awalnya orang-orang merayakan dengan menulis surat cinta, tradisi ini berkembang menjadi pertukaran hadiah sebagai simbol kasih sayang. Pada abad ke-18, kartu ucapan Valentine mulai populer di Eropa, dan seiring perkembangan zaman, hadiah seperti cokelat, bunga, hingga perhiasan menjadi bagian dari perayaan ini.

Di era modern, Valentine dirayakan dengan berbagai cara, mulai dari makan malam romantis, saling memberikan kejutan, hingga berbagi kebahagiaan melalui media sosial. Meski maknanya telah berubah dari sejarah aslinya, esensi dari Hari Valentine tetap sama, yaitu tentang kasih sayang dan kepedulian terhadap orang lain.

Tak banyak yang tahu bahwa Hari Valentine yang kini identik dengan kebahagiaan ternyata berakar dari kisah tragis seorang uskup yang rela berkorban demi cinta. Dari eksekusi mati yang tragis, lahirlah sebuah perayaan yang hingga kini masih terus dirayakan oleh banyak orang. Sejarah ini mengajarkan kita bahwa cinta memiliki banyak bentuk, termasuk keberanian untuk memperjuangkan yang benar.

Kini, Valentine bukan hanya sekadar hari untuk pasangan kekasih, tetapi juga untuk keluarga, sahabat, bahkan diri sendiri. Tidak ada salahnya merayakan hari ini dengan berbagai cara, selama tujuannya tetap untuk menyebarkan kasih sayang dan kebahagiaan.
Copyright © Tampang.com
All rights reserved